Jumat, 02 Desember 2011

Teknik Pemberian Obat

TEKNIK PEMBERIAN OBAT

Perawat professional mempunyai peranan yang penting dalam pelaksanaan peberian obat. Untuk dapat memberikan obat secara benar dan efektif, perawat harus mengetahui tentang indikasi, dosis, cara pemberian dan efek samping yang mungkin terjadi dari setiap obat yang diberikan.
            Untuk menghindari kesalahan, maka perawat tidak boleh memberikan sampai ia benar- benar memahami obat yang diberikan. Dengan kemajuan bidang farmasi, maka jenis dan jenis dan jumlah obat juga makin bervariasi. Untuk mengantisipasi hal ini, maka perawat harus rajin dalam belajar dan membaca berbagai informasi baru tentang obat- obatan.
            Sebelum memberikan suatu obat, maka perawat harus yakin bahwa obat tersebut benar- benar diorderkan oleh dokter. Dalam hal ini perawat berpegang pada prinsip Lima Benar yang meliputi : benar ordernya, benar obatnya, benar pasiennya, benar cara pemberiannya dan benar waktu pemberiannya.
            Seperti telah dijelaskan pada Bab 3, bahwa pada dasarnya ada empat jenis order dari dokter yaitu saat order, single order, standing order, dan  order kalau perlu. Pada setiap order harus ditulis dengan jelas tentang nama lengkap pasien, nama obat, dosis di tulis dengan jelas tentang nama lengkap pasien, nama obat, dosis obat, cara memberikan dan tanda tangan dokter atau perawat yang diberi wewenang. Untuk menyingkat suatu pernyataan order, dokter sering menggunakan singkatan- singkatan yang digunakan diberbagai tempat (Tabel 4 -1 ).
Obat dapat diberikan dengan berbagai cara antara lain secara enteral (per oral), parenteral, dan topikal. Dalam pembahasan selanjutnya akan dijelaskan tahap kerja pemberian obat dengan berbagai cara menurut Kozier dan Erb.






Tabel 4 1. Singkatan yang lazim digunakan dalam pengobatan
Singkatan
Keterangan
Singkatan
Keterangan
aa
masing-masing satu
os
oral
a.c
sebelum makan
p.c
setelah makan
ad.lib
bebas, sesuai yang diperlukan
PO
per oral


PR
per rectum
c
dengan
prn
bilamana perlu
caps
kapsul
q
setiap
d
hari
q.d
setiap hari
elix
eliksir
q.h
setiap jam
ext
ekstrak
q.i.d
empat kali sehari
gm
gram
q.o.d
setiap hari yang lain
gtt
satu tetes
q.s
sebanyak yang diperlukan
hr
jam


h.s
saat jam tidur
s
tanpa
IM
intramuscular
sc
subkutan
IV
intravenous
s.o.s
satu dosis bila diperlukan
ml
milliliter


o.d
setiap hari
ss
setengah
O.D
mata kanan
tab
tablet
o.h
setiap jam
t.i.d/t.d.d
tiga kali
o.n
setiap malam


O.S
mata kiri
tr
ung
tincture
ointment
Order pengobatan dapat dibuat oleh dokter kepada perawat untuk memberikan obat tertentu. Order juga dapat ditujukan pada opoteker untuk meracik atau menyiapkan ramuan obat. Order untuk apoteker yang sering disebut “resep” yang ditulis dengan symbol R/, mempunyai beberapa komponen antara lain ; nama, alamat dan umur pasien, tanggal kapan resep ditulis, nama, dosis dan kekuatan obat ; cara pemberian, petunjuk penggunaan misalnya Siq. Tab tdd yang artinya dalam label tandailah 3 x 1 tablet sehari, dan tanda tangan yang membuat resep (Gb. 4-1)


 

















Ganbar 4 – 1. Contoh resep/order obat.


Pemberian Obat Per Oral/ Sublingual

Pemberian Obat Per oral

            Pemberian obat per oral merupakan cara yang paling banyak dipakai karena merupakan cara yang paling mudah, murah, aman, dan nyaman bagi pasien. Berbagai bentuk obat dapat diberikan secara oral baik dalam bentuk tablet, sirup, kapsul atau puyer. Untuk membantu absorbsi, maka pemberian obat per oral dapat disertai dengan pemberian setengah gelas air atau cairan yang lain (Gbr. 40-2).
            Kelemahan dari pemberian obat per oral adalah pada aksinya yang lambat sehingga cara ini tidak dapat dipakai pada keadaan gawat. Obat yang diberikan per oral biasanya membutuhkan waktu 30 sampai dengan 45 menit sebelum diabsorbsi dan efek puncaknya dicapai setelah 1 sampai 1jam. Rasa dan bau obat yang tidak enak sering menganggu pasien. Cara per oral tidak dapat dipakai pada pasien yang  mengalami mual- mual, muntah, semi koma, pasien yang akan menjalani pengisapan cairan lambung serta pada pasien yang mempunyai gangguan menelan.
            Beberapa jenis obat dapat mengakibatkan iritasi lambung dan menyebabkan muntah (missal garam besi dan salisilat). Untuk mencegah hal ini, obat dipersiapkan dalam bentuk kapsul yang diharapkan tetap utuh dalam suasana asam di lambung, tetapi menjadi hancur pada suasana netral atau basa di usus. Dalam memberikan obat jenis ini, bungkus kapsul tidak boleh dibuka, obat tidak boleh dikunyah dan pasien diberi tahu untuk tidak minum antacid atau susu sekurang- kurangnya satu jam setelah minum obat.
            Apabila obat dikemas dalam bentuk sirup, maka pemberian harus dilakukan dengan cara yang paling nyaman khususnya untuk obat yang pahit atau rasanya tidak enak. Pasien dapat diberi minuman sirup pasien (es) sebelum minum sirup tersebut. Sesudah minum sirup pasien dapat diberi minum, pencuci mulut atau kembang gula.


 














Gambar 4-2. Persiapan pemberian obat per oral.
Persiapan obat per oral dan cara lainnya merupakan hal yang penting. A, Kartu pesanan obat harus diperiksa secara hati- hati tentang pesanan obatnya. Sebelum mengambil/ mengeluarkan obat, perawat harus mencocokkan kartu pesanan obat dengan label pada botol kemasan obat. Setiap label harus dibaca tiga kali untuk menyakinkan obat yang diberi (1) Pada saat botol obat diambil dari almari, (2) Pada saat mencocokkan dengan kartu pesanan obat, (3) Pada saat dikembalikan. B, Obat dalam bentuk cair dituangkan menjauhi sisi label, sejajar dengan mata pada permukaan yang datar. Sebelum mengembalikan obat ke dalam almari atau lemari es, perawat harus mengusap bibir botol sehingga obat tidak lengket atau merusak label. C, Tablet dan kapsul dikeluarkan dari botolnya pada tutupnya kemudian pada mangkok yang dialasi kertas untuk diberikan pada pasien. Kapsul dan tablet tidak boleh dipegang. (Diadaptasikan dari :Pagliaro, 1986, Pharmacologic Aspects of Nursing, The CV Mosby co, St Louis).

Cara kerja pemberian obat per oral
Peralatan :
1.      Baki berisi obat- obatan atau kereta sorong obat- obat (tergantung sarana yang ada)
2.      Kartu rencana pengobatan
3.      Cangkir disposable untuk tempat obat
4.      Martil dan lumping penggerus (bila diperlukan).
Tahap kerja :
1.      Siapan peralatan dan cuci tangan
2.      Kaji kemammpuan pasien untuk dapat minum obat per oral (kemapuan menelan, mual dan muntah, akan dilakuakn penghisapan caiaran lambung, atau tidak boleh makan/ minum).
3.      Periksa kembali order pengobatan (nama pasien,nama dan dosis obat, waktu dan cara pemberian). Bila ada keragu- raguan laporkan ke perawat jaga atau dokter.
4.      Ambil obat sesuai yang diperlukan (Baca order pengobatan dan ambil obat di almari, rak atau lemari es sesuai yang di perlukan).
5.      Siapkan obat- obatan yang akan diberikan (gunakan teknik asptik, jangan menyentuh obat dan cocokkan dengan order pengobatan) (lihat Gbr. 4-1).
6.      Berikan obat pada waktu dan cara yang benar yaitu dengan cara :
§         Yakin bahwa tidak pada pasien yang salah
§         Atur posisi pasien duduk bila mungkin
§         Berikan cairan/ aiar yang cukup untuk membantu menelan, bila sulit menelan anjurkan pasien meletakkan obat di lidah bagian belakang, kemudian pasien dianjurkan minum.
§         Bila obat mempunyai rasa tidak enak, beri pasien berapa butir es batu untuk diisap sebelumnya, atau berikan obat dengan menggunakan lumatan apael atau pisang.
§         Tetap bersama pasien sampai obat ditelan. 
7.      Catat tindakkan yang telah dilakukan meliputi nama dan dosis obat yang diberikan, setiap keluhan dan hasil pengkajian pada pasien. Bila obat tidak dapat masuk, catat secara jelas dan tulis tanda tangan anda dengan jelas.
8.      Kemudian semua peralatan yang dipakai dengan tepat dan benar kemudian cuci tangan.
9.      Lakukan evaluasi mengenai efek obat pada pasien kurang lebih 30 menit sewaktu pemberian.

Pemberian Secara Sublingual
Obat dapat diberikan pada pasien secara sublingual yaitu dengan cara meletakkan obat di bawah lidah. Meskipun cara ini jarang dilakukan, namun perawat harus mampu melakukannya. Dengan cara ini, aksi kerja obat lebih cepat yaitu setelah hancur di bawah lidah maka obat segera mengalami absorbsi ke dalam pembuluh darah. Cara ini juga mudah dilakukan dan pasien tidak mengalami kesakitan. Pasien diberitahu untuk tidak menelan obat karena bila ditelan, obat menjadi tidak aktif oleh adanya proses kimiawi dengan cairan lambung. Untuk mencegah obat tidak di telan, maka pasien diberitahu untuk membiarkan obat tetap di bawah lidah sampai obat menjadi hancur dan terserap. Obat yang sering diberikan dengan cara ini adalah nitrogliserin yaitu obat vasodilator yang mempunyai efek vasodilatasi pembuluh darah. Obat ini banyak diberikan pada pada pasien yang mengalami nyeri dada akibat angina pectoris. Dengan cara sublingual, obat bereaksi dalam satu menit dan pasien dapat merasakan efeknya dalam waktu tiga menit (Rodman dan Smith, 1979).

Pemberian Obat Secara Bukal
            Dalam pemberian obat secara bukal, obat diletakkan antara gigi dengan selaput lender pada pipi bagian dalam. Seperti pada pemberian secara sublingual, pasien dianjurkan untuk membiarkan obat pada selaput lender pipi bagian dalam sampai obat hancur dan diabsorbsi. Kerja sama pasien sangat penting dalam pemberian obat  cara ini karena biasanya pasien akan menelan yang akan menyebabkan obat menjadi tidak efektif.
            Cara pemberian ini jarang dilakukan dan pada saat ini hanya jenis preparat hormone dan enzim yang menggunakan metode ini misalnya hormone polipeptida oksitosin pada kasusu obstetric. Hormone oksitosin mempunyai efek meningkatkan tonus serta motalitas otot uterus dan digunakan untuk memacu kelahiran pada kasus- kasus tertentu (Rodman dan Smith, 1979).

Pemberian Obat Secara Parenteral
pengertian
Istilah parenteral mempunyai arti setiap jalur pemberian obat selain melalui enteral atau saluran pencernaan. Lazimnya, istilah parenteral dikaitkan dengan pemberian obat secara injeksi baik intradermal, subkutan, intramuscular, atau intravena. Pemberian obat secara parenteral mempunyai aksi kerja lebih cepat disbanding dengan secara oral.
Namun, pemberian secara parenteral mempunyai berbagai resiko antara lain merusak kulit, menyebabkan nyeri pada pasien, salah tusuk dan lebih mahal. Demi keamanan pasien, salah tusuk dan mahal. Demi keamanan pasien, perawat harus mempunyai pengetahuan yang memadai tentang cara pemberian obat secara parenteral termasuk cara menyiapkan, memberikan obat dan menggunakan teknik steril.
            Dalam memberikan obat secara parenteral, parawat harus mengetahui dan dapat menyiapkan peralatan yang benar yaitu alat suntik (spuit/syringe), jarum, vial dan ampul). Menurut bentuknya spuit mempunyai tiga bagian yaitu ujung yang berkaitan dengan jarum, bagian tabung dan bagian pendorong obat (Gbr. 4-3).


 











Gambar 4-3. Spuit kaca dan spuit plastic disposibl.

   


 












Gambar 4-4. Spuit standard hipodermik, insulin dan tuberkulin


Dilihat dari bahan pembuatannya spuit dapat berupa spuit kaca (jarang digunakan) dan spuit plastik (disposable). Ditinjau dari penggunaannya spuit dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu spuit standard hipodermik, spuit insulin dan spuit tuberculin (Gbr. 4- 4).
            Jarum merupakan alat pelengkap spuit. Jarum injeksi terbuat dari bahan stainless yang mempunyai ukuran panjang dan besar yang bervariasi. Jarum mempunyai ukuran panjang yang berkisar antara 1,27 sampai dengan 12,7 cm. besar jarum di nyatakan dengan satuan gauge antara nomor 14 sampai dengan 28 gauge. Semakin besar ukuran gauge-nya semakin kecil diameternya. Diameter yang besar dapat menimbulkan rasa sakit saat ditusukkan. Penggunaan ukuran jarum ini disesuaikan dengan keadaan pasien yang meliputi umur, gemuk/kurus, jalur yang akan dipakai dan obat yang akan dipakai dan obat yang akan dimasukkan.
            Cairan obat untuk diberikan secara parenteral, biasanya dikemas dalam ampul atau vial (Gbr. 4-5). Ampul biasanya terbuat dari bahan gelas. Sebagian besar leher ampul mempunyai tanda berwarna melingkar yang dapat dipatahkan. Bila bagian leher tidak


 












Gambar 4-5. Ampul dan vial untuk mengemas obat.
Mempunyai tanda berarti bagian pangkal leher harus digergaji dengan gergaji ampul sebelum dipatahkan. Vial mempunyai ukuran yang bervariasi. Bagian penutupnya biasanya terbuat dari plastik yang dilindungi dengan bagian logam.
            Vial dibuka dengan cara membuka logam tipis penyegel bagian atas vial sehingga bagian karet akan kelihatan. Cairan obat diambil dengan cara menusuk jarum spuit pada karet penutup vial. Untuk lebih jelasnya bacalah cara kerja menyiapkan obat dari ampul dan vial.

Cara kerja menyiapkan obat dari ampul dan vial :
1.      Siapkan peralatan yang meliputi :
a.       Vial atau ampul yang berisi cairan obat steril
b.      Kapas alcohol
c.       Jarum dan spuit sesuai ukuran yang dibutuhkan
d.      Air steril atau normal salin bila diperlukan
e.       Kassa pengusap
f.        Turniket untuk injeksi antravena
g.       Kartu obat atau catatan rencana pengobatan.

2.      Periksa dan yakinkan bahwa order pengobatan dan cara pemberiannya telah akurat.

3.      Siapkan ampul atau vial yang berisi obat sesuai yang diperlukan dan kemudian buka dengan cara sebagai berikut :  
  1. untuk ampul ; pegang ampul dan bila cairan obat banyak terletak di bagian kepala, jentiklah kepala ampul atau putar ampul beberapa kali sehingga obat akan turun ke bawah. Bila perlu bersihkan bagian leher ampul. Ambil kassa steril letakkan diantara ampul dan ibu jari dengan jari- jari anda kemudian patahkan leher ampul kea rah berlawanan dengan anda.
  2. Untuk vial ; Bila perlu campur larutan dengan memutar- mutar vial dalam genggaman anda (bukan dengan mengocok). Buka logam penyegel kemudian disinfeksi karet vial dengan kapas alcohol 70 %. 

4.      Ambil cairan obat dengan cara sebagai berikut :
  1. Untuk obat dalam ampul ; sebaiknya gunakan jarum berfilter. Buka penutup jarum kemudian secara hati- hati masukkan jarum yang sesuai yang si butuhkan. Bila spuit akan digunakan untuk injeksi, ganti jarum filter dengan jarum biasa.
  2. Untuk obat dalam vial ; Pasang jarum berfilter pada spuit, buka penutup jarum dan tarik pengokang spuit agar udara masuk ke tabung spuit agar udara masuk ke tabung spuit. Secara hati- hati tusukkan jarum di tengah karet penutup vial lalu masukkan udara. Pertahankan jarum tidak menyentuh cairan obat sehingga udara tidak membuat gelembung. Pegang vial sejajar dengan mata vial tarik obat secukupnya secara hati- hati. Tarik spuit dari vial kemudian tutup jarum dengan kap penutup lalu ganti jarum pada spuit dengan jarum biasa.
  3. Bila obat berbentuk bubuk (powder), bacalah cara pengunaannya. Obat injeksi bentuk bubuk harus dibuat dalam larutan dulu sebelum diambil. Untuk membuat larutan obat bubuk maka sebelum dibuat larutan, hisap udara dalam vial, yang berisi obat tersebut dengan spuit 9kecuali untuk obat yang tidak diperbolehkan). Masukkan air steril atau cairanlain sesuai yang dibutuhkan kedalamnya, kemudian putar- putar vial sampai obat menjadi larutan. Bila obat merupakan multidosis, beri label pada vial tersebut tentang tanggal dicampur, banyaknya obat dalam vial dan tanda tangan anda. Bila perlu disimpan, baca cara penyimpanannya sesuai yang dianjurkan oleh pabrik farmasi.
  4. Bila obat perlu dicampur dari beberapa vial misalnya dua vial, maka perawat harus berupaya mencegah tercampurnya obat pada kedua vial tersebut. Cara mencampur obat dari dua vial adalah : masukkan udara secukupnya pada vial A dan jaga jarum tidak menyentuh cairan. Lalu cabut jarum kemudian hisap udara secukupnya lalu masukkan pada vial B. Hisap cairan obat B sesuai yang diperlukan kemudian cabut spuit tersebut. Ganti jarum kemudian tusukkan pada vial A dan hisap cairan obat dari vial A sesuai yang diperlukan berikutnya cabut spuit dari vial A.
  Injeksi Intradermal
Injeksi Intradermal atau intrakutan merupakan injeksi yang ditusukkan pada lapisan dermis atau dibawah epidermis/ permukaan kulit (Gbr. 4-6). Injeksi ini dilakukan secara terbatas, karena hanya sejumlah kecil obat yang dapat dimasukkan. Cara ini lazim digunakan untuk test tuberculin dan test untuk mengetahui reaksi alergi terhadap obat tertentu serta vaksinasi. Kadang- kadang cara


 






  


Gambar 4.6. injeksi Intradermal : A, Jarum ditusukkan ke kulit dengan sudut 150  B, Obat membentuk suatu benjolan di bawah epidermis (Kozier, Erbs, Funda mentals of Nursing, Fourth Edition, 1990, Addison Wesley Co, California).

Cara ini digunakan pada anestesi local kemudian dilanjutkan untuk injeksi pada area yang lebih dalam. Area yang lazim digunakan untuk injeksi pada area yang lebih dalam. Area yang lazim digunakan untuk injeksi intradermal adalah lengan bawah bagian dalam, dada untuk injeksi intardermal adalah lengan bawah bagian dalam, dada bagian atas dan punggung pada area skapula.
Cara kerja :
1. Siapkan peralatan antara lain:
a.       Spuit ukuran 1 ml dengan kalibrasi militer
b.      Jarum dengan ukuran sesuai kebutuhan, biasanya nomor 25, 26 atau 27 gauge, panjang sampai dengan .
c.       Kapas alcohol
d.      Buku pengobatan dan instruksi pengobatan.
 2. Beritahu pasien
3. Siapkan area yang akan diinjeksi misalnya legan kanan dan lakukan desinfeksi dengan kapas alcohol
4. Pegang erat lengan pasien dengan tangan kiri anda dan tangan satunya memegang spuit ke arah pasien.
5. Tusukkan spuit dengan sudut 15 pada epidermis kemudian diteruskan sampai dermis lalu dorong cairan obat. Obat ini akan menimbulkan tonjolan di bawah permukaan kulit.
6. Cara spuit, usap pela- pelan area penyuntikan dengan kapas antiseptic tanpa memberikan massage (massage dapat menyebabkan obat masuk ke jaringan atau keluar melalui lubang injeksi).

 Injeksi Subkutan
Injeksi subkutan diberikan dengan menusuk area di bawah kulit yaitu pada jaringan konektif atau lemak di bawah dermis (Gbr. 4-7).
Setiap jaringan subkutan dapat dipakai untuk area injeksi ini, yang lazim adalah pada lengan atas bagian luar, paha bagian depan. Area lain yang lazim digunakan adalah perut, area scapula, ventrogluteal dan dorsogluteal. Injeksi harus tidak diberikan pada area yang nyeri, merah, pruritis atau edema. Pada pemakaian ijeksi subkutan jangka lama, maka injeksi perlu direncanakan untuk diberikan secara rotasi pada area yang berbeda (Gbr. 4-8)
Jenis obat yang lazim diberikan secara subkutan adalah vaksin, obat- obatan preoperasi, narkotik, insulin, dan heparin.

Cara kerja :
1.      Siapkan peralatan yang berupa :
2.      Masukkan obat dari vial atau ampul ke dalam tabung spuit dengan cara yang benar
3.      beritahu pasien dan atur dala posisi yang nyaman. (jangan keliru pasien ; Bantu pasien pada posisi yang mana lengan, kaki, atau perut yang akan digunakan injeksi dapat rileks).
4.      pilih area tubuh yang tepat kemudian usapkan dengan kapas antiseptic dari tengah keluar secara melingkar sekitar 5 cm mengunakan tangan yang tidak menginjeksi. 
5.      Siapkan spuit, lepas kap penutup secara tegak lurus sambil menunggu antiseptic kering dan keluatkan udara dari spuit.
6.      Pegang spuit dengan salah satu tangan antara jempol dan jari- jari pada area injeksi dengan telapak tangan menghadap ke samping atau atas untuk kemiringan 45 atau dengan telapak tangan yang tidak memegang spuit untuk mengangkat atau merentangkan kulit, lalu secara hati- hati dan mantap tangan yang lain menusukkan jarum. Lakukan aspirasi, bila muncul darah maka segera cabut spuit untuk dibuang dan diganti spuit dan obat baru. Bila tidak muncul darah, maka pelan- pelan dorong obat ke dalam jaringan.
7.      Cabut spuit lalu usapkan dan massage pada area injeksi. Bila tempat penusukka mengeluarkan darah, maka tekan area tusukkan dengan kassa steril kering sampai perdarahan berhenti.
8.      Buang spuit tanpa harus menutup jarum dengan kapnya (mencegah cidera bagi perawat) pada tempat pembuangan secara benar.
9.      Catat tindakan yang telah dilakukan
10.  Kaji keefektifitasan obat.


Injeksi Intramuskular










Gambar 4-7. Injeksi subkutan
 












Gambar 4-8. Rotasi pemberian injeksi Subkutan

Injeksi intramuskuler dilakukan
Injeksi intramuskular dilakukan dengan bebrapa tujuan yaitu untuk memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar dibanding obat yang diberikan melalui subkutan. Absorbsi juga lebih cepat dibandingkan dengan pemberian secara subkutan karena lebih banyaknya suplai darah di otot tubuh. Pemberian dengan cara ini dapat pula mencegah/ mengurangi iritasi obat. Namun, perawat harus hati- hati  dalam melakukan injeksi secara intramuscular karena cara ini dapat menyebabkan luka pada kulit dan rasa nyeri serta takut pada pasien.
Beberapa lokasi pada tubuh dapat digunakan untuk injeksi intramuscular. Namun, yang lazim digunakan adalah deltoid, dorsogluteal, ventrogluteal, vastus lateralis, dan rektus femoris.
Area- area di atas digunakan karena berbagai alasan antara lain karena massa otot yang besar, vaskularisasi baik dan jauh dari syaraf. Dalam pelaksanaannya, perawat harus mempertimbangkan usia pasien, ukuran dan kondisi dari otot yang akan diinjeksi. Untuk menghindari obat salah masuk pada jaringan subkutan, maka pada saat menginjeksi, jarum diatur pada posisi tegak lurus 90 (Gbr. 4-9).
Area Deltoid. Area ini dapat ditemukan pada lengan atas bagian luar. Area ini jarang digunakan untuk injeksi instramuskular karena mempunyai resiko besar terhadap bahaya tertusuknya pembuluh darah, mengenai tulang atau serabut saraf. Cara sederhana menentukan lokasi injeksi pada deltoid adalah dengan cara meletakkan dua jari secara vertical di bawah akromion, dengan jari yang atas di atas akromion. Lokasi injeksi adalah tiga jari di bawah akromion (Gbr. 4-10)


 










Gambar 4-9. Posisi jarum pada injeksi intramuscular



 







Gambar 4-10. Cara menentukan area deltoid pada injeksi instranuskuler
Area Dorsogluteal. Dalam  melakukan injeksi dorsogluteal, perawat harus teliti dan hati- hati sehingga injeksi tidak mengenal syaraf skiatik dan pembuluh darah. Lokasi ini dapat digunakan pada orang dewasa dan anak- anak di atas usia 3 tahun, lokasi ini tidak boleh digunakan pada anak-anak di bawah 3 tahun karena pada kelompok usia ini otot dorsoluteal belum berkembang.
            Salah satu cara menentukan lokasi dorsogluteal adalah dengan cara membagi area gluteal menjadi kuadran- kuadran. Area gluteal tidak hanya terbatas pada bokong saja, tetapi memanjang kea rah Krista iliaka. Area injeksi dipilih pada area kuandran luar atas (Gbr. 4-11).
            Area injeksi ventrogluteal dapat pula ditentukan dengan cara menarik garis bayangan dari spina iliaka posterior superior menuju trokanter besar. Injeksi dilakukan pada area lateral dan superior terhadap garis bayangan (Gbr. 4-11).
            Untuk menampakkan area ini dengan jelas, pakaian yang menutupi bokong harus dibuka secara dan pasien diatur berbaring menghadap ke bawah dalam posisi prone dengan kedua tangan di atas kedua sisi tempat tidur dan kedua kaki diputar ke dalam. Posisi ini akan membantu relaksasi otot gluteus dan relaksasi pasien yang diinjeksi. Selain posisi pronasi, pasien dapat pula diatur dalam posisi miring ke samping dengan kaki yang di atas ditekuk pada pangkal paha dan lutut serta diletakkan di depan kaki bawah yang diatur lurus.
            Area Ventrogluteal. Area ini juga disebut area von Honchstetter. Area ini paling banyak dipilih untuk injeksi intramuskuler karena pada area ini tidak terdapat pembuluh darah dan saraf besar. Area ini juga jauh dari anus sehingga tidak atau kurang terkontaminasi. Dalam melakukan injeksi pada area ini, pasien dapat diatur dalam posisi berbaring telentang, tengkurap (pronasi), duduk atau berbaring ke samping. Untuk mendapatkan area ini, misalnya apa


 



         





Gambar 4.11. Cara menetukan area dorsogluteal pada injeksi intramuscular
A. Cara I, B. Cara II.

            Bila pasien diatur miring ke samping kanan,, perawat meletakkan telapak tangan pada trokanter mayor dengan jari- jari menghadap kea rah kepala (perhatikan jangan sampai keliru dengan Krista iliaka superior). Jari tengah diletakkan pada spina iliaka anterior superior dan direntangkan menjauh membentuk suatu area berbentuk huruf V. jarum injeksi diturukkan di tengah- tengah area ini (Gbr. 4-12).
            Area vastus lateralis. Area ini terletak antara sisi median anterior dan sisi midlateral paha. Otot vastus lateralis biasanya tebal dan tumbuh secara baik pada orang dewasa dan anak- anak. Bila melakukan injeksi pada bayi, disarankan menggunakan area ini karena pada area ini tidak terdapat serabut saraf dan pembuluh darah besar (Gbr. 4-13). Area injeksi disarankan pada sepertiga bagian yang tengah. Area ini ditentukan dengan cara membagi area antara trokanter mayor sampai dengan kondila femur lateral menjadi tiga bagian lalu pilih area tengah untuk lokasi injeksi. Untuk melakukan injeksi ini, pasien dapat diatur miring atau duduk.


 









Gambar 4- 12. Cara menentukan area ventrogluteal pada injeksi intramuscular.

Cara kerja injeksi intramuscular :
1.      Pastikan tentang adanya order pengobatan
2.      Siapkan peralatan yang terdiri dari :
a.       Kartu pengobatan/ rencana order pengobatan
b.      Obat steril dalam ampul atau vial
c.       Spuit beserta jarum steril(ukuran tergantung dengan yang diperlukan)
d.      Kapas pengusap dalam larutan antiseptic
e.       Kaca steril (bila diperlukan untuk membuka ampul)










Gambar 4-3. area vastus lateralis pada injeksi intramuskular.
3.      Siapkan obat dengan mengambil obat dari ampulatau vial sesuai dengan jumlah yang dikehendaki (baca pada cara kerja menyiapkan obat dari vial atau ampul).
4.      Yakinkan bahwa pasien benar dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan, kemudian Bantu mengatur posisi yang nyaman.
5.      Buka pakaian, selimut atau kain yang menutupi area yang akan diinjeksi.
6.      Tentukan lokasi penyuntikan, pilihlah area yang bebas dari lesi, nyeri tekan, bengkak dan radang. Bersihkan kulit dengan pengusap antiseptic secara melingkar dari dalam ke luar.
7.      Siapkan spuit yang sudah berisi obat buka penutup jarumnya dengan hati- hati, dan keluarkan udara dalam spuit.
8.      Gunakan tangan yang tidak memagang spuit untuk membentangkan kulit pada area yang akan ditusuk, pegang spuit antara jempol dan jari- jari kemudia tusukkan jarum secara tegak lurus pada sudut 90.
9.      Lakukan aspirasi untuk mengecek apakah jarum tidak mengenai pembuluh darah dengan cara menarik pengokang. Bila terhisap darah maka segera cabut spuit, buang dang anti yang baru. Bila tidak terhisap darah, maka perlahan- lahan masukkan obat  dengan cara mendorong pengokang spuit.
10.  Bila obat sudah masuk semua maka segera cabut spuit dan lakukan massage pada area penusukan
11.  Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang nyaman
12.  Buang spuit pada tempat yang disediakan, bereskan peralatan
13.  Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda
Injeksi Intravena
Jalur vena dipakai khususnya untuk tujuan agar obat yang diberikan dapat beraksi dengan cepat misalnya pada situasi gawat darurat, obat dimasukkan ke dalam vena sehingga obat langsung masuk system sirkulasi yang menyebabkan obat dapat bereaksi lebih cepat disbanding dengan cara enteral atau parenteral yang lain yang memerlukan waktu absorbsi.
           
            Pemberian obat intravena dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pada pasien yang tidak dipasang infuse, obat diinjeksi langsung pada vena. Bila cara ini yang digunakan, maka biasanya di cari vena besar yaitu vena basilica atau vena sefalika pada lengan (Gbr. 4 -14). Pada pasien yang dipasang infuse, obat dapat diberikan melalui botol infuse atau melalui karet pada selang infuse yang dibuat untuk memasukkan obat.
            Di Negara mahu misalnya Amerika serikat dan Kanada, tidak semua perawat diperolehkan memasukkan obat melalui vena atau memasang infuse karena resiko yang dapat terjadi cukup besar. Untuk dapat memasang infuse maka perawat harus mengikuti kursusu keterampilan dahulu.







 











Gambar 4-14. Vena basilica dan vena sefalika di lengan kiri.
           
Untuk memasukkan obat melalui vena, perawat harus mepunyai pengetahuan dan keterampilan yang memadai sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan atau menyebabkan berbagai masalah yang fatal bagi pasien misalnya terjadi emboli udara. Perawat harus mampu mencari vena yang tepat untuk penusukan. Jangan lakukan penusukan sebelum yakin mendapatkan vena yang mudah ditusuk. Pengulangan tusukan dapat menyebabkan rasa sakit dan rasa takut pada pasien.
            Pasien yang terpasang infuse seringkali mendapat order obat yang dimauskkan secara intravena. Pada pasien ini, perawat tidak perlu membuat tusukan baru lagi, tetapi dapat memasukkan obat melalui karet pada pipa infuse yang dirancang untuk memasukkan obat atau melalui botol infuse. Dalam melakukan tindakan tindakan ini, perawat harus memperhatikan teknik aseptik yaitu dengan mengusap tempat yang akan ditusuk dengan kapas antiseptik. Klem infus dimatikan selama obat dimasukkan dan sudah selesai, kecepatan tetesan diatur kembali.  Pada setiap penambahan obat melalui pipa atau botol infus, buat label pada botol infuse, angkat dan goyangkan botol agar obat dapat campur, observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda pada buku catatan pengobatan atau status kesehatan pasien.

Cara kerja memberikan obat intravena :
1.      Pastikan tentang adanya order pengobatan
2.      Siapkan peralatan yang terdiri dari:
a.       Kartu pengobatan/ rencana order pengobatan
b.      Spuit steril yang berisi obat steril
c.       Kapas pengusap dalam larutan antiseptic
d.      Turniket
3.      Yakinkan bahwa pasien benar dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan, kemudian Bantu mengatur posisi yang nyaman.
4.      Tentukan dan cari vena yang akan ditusuk (misalnya vena basilica dan vena sefalika, buka kain yang menutupi vena).
5.      bila vena sudah ditemukan missal vena basilica, atur lengan lurus dan pasang turnikat sampai vena benar- benar dapat dilihat dan diraba kemudian bersihkan dengan kapas pengusap antiseptic.
6.      siapkan spuit yang sudah berisi obat, bila dalam tabung masih terdapat udara, maka udara harus dikeluarkan.
7.      pelan tusukkan jarum ke dalam vena dengan posisi jarum sejajar dengan vena. Untuk mencegah vena tidak bergeser tangan yang tidak memegang spuit dapat digunakan untuk menahan vena sampai jarum masuk vena.
8.      lakukan aspirasi dengan cara menarik pengokang spuit. Bila terhisap darah, lepas turniket dan dorong obat pelan- pelan ke dalam vena.
9.      setelah obat masuk semua, segera cabut spuit dan buang di tempat pembuangan sesuai prosedur.
10.  rapikan pasien dan atur dalam posisi yang nyaman
11.  observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda.
Cara kerja memasang infuse
1.      Pastikan tentang adanya order pengobatan
2.      siapkan peralatan :
a.       cairan intravena sesuai yng dibutuhkan
b.      Iv set yang terdiri dari pipa intravena dan jarum
c.       Jarum lain
d.      Papan spalk (bila diperlukan)
e.       Baki berisi : bola kapas beralkohol, turniket, gunting, plester.
f.        Standard infuse
g.       Kassa steril
h.       Larutan antiseptic misalnya : betadin
i.         Sarung tangan disposable.
3.      kaji pasien dan pastikan tidak salah pasien yang lain.
4.      beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan.
5.      siapkan cairan yang akan diberikan ; buka botol infuse dan pipa infuse dari kantongnya, buka penutup botol infuse dan sambungkan dengan pipa infuse dengan cara menusukkan penusuk karet pipa infuse pada mulut botol infuse. Pencet drip/penampung sehingga cairan infuse masuk ke drip sampai memenuhi piapa. Hilangkan udara pada pipa dengan cara meluruskan pipa tegak lurus dan menjentik- jentik dengan ujung tengah jari. Pastikan bahwa dalam pipa dan jarum tidak ada udara.
6.      ataur posisi pasien rileks dengan tangan lurus
7.      pasang turniket di atas area vena yang akan ditusuk dan anjurkan pasien untuk menggenggam erat sampai vena distensi dan tanpak dengan jelas. Bila vena belum tampak perawat dapat menepuk-nepuk area vena sambil menganjurkan pasien membuka dan menutup genggaman sampai vena tampak jelas.
8.      bersihkan area yang akan ditusuk dengan kapas alcohol.
9.      pegang jarum pada sudut 45 sejajar dengan vena dan tusukkan pada vena. Setelah ujung jarum dalam vena, rendahkan kesudutan jarum sampai hamper sejajar dengan vena. Jarum kemudian diteruskan masuk ke vena dan tangan yang tidak memegang jarum digunakan untuk mengontrol letak jarum dengan palpasi vena dari luar. (Bila menggunakan abocath, satu tangan mendorong jarum sementara tangan yanglain menarik mandarin ke luar, setelah mandarin keluar dan darah keluar sedikit maka jarum segera dihubungkan dengan pipa infuse).
10.  turniket segera dilepas dan cairan segera dialirkan dengan membuka klem.
11.  setelah yakin aliran lancer, tutup area penusukan dengan kassa betadin danpasang plester.
12.  atur kecepatan tetesan infuse sesuai pesanan.
13.  atur posisi pasien yang nyaman dan tidak menghasilkan aliran cairan.
14.  bereskan peralatan dan catat tindakan anda secara singkat dan jelas.

Pemberian Obat Topikal
Selain dikemas dalam bentuk untuk diminum atau diinjeksikan, berbagai jenis obat dikemas dalam bentuk  obat luar seperti lotion, liniment, ointment, pasta dan bubuk yang biasanya dipakai untuk pengobatan gangguan dermatologis misalnya gatal- gatal, kulit kering, infeksi dan lain- lain. Obat topical juga dikemas dalam bentuk obat tetes (instilasi) yang dipakai untuk tetes mata, telinga atau hidung serta dalam bentuk untuk irigasi baik mata, telinga, hidung, vagina, maupun rectum.

Pemberian Obat Melalui vagina
pengertian
Irigasi vagina merupakan suatu prosedur membersihkan vagina dengan aliran air yang pelan. Tindakan ini dilakukan terutama untuk memasukkan larutan antimikrobia guna mencegah pertumbuhan mikroorganisme penyebab infeksi, mengeluarkan kotoran dalam vagina dan mencegah pendarahan (dengan cairan dingin atau hangat) dan mengurangi peradangan.
Peralatan steril digunakan untuk melakukan irigasi vagina dirumah sakit, terutama bila terdapat luka terbuka pada vagina. Jenis cairan yang digunakan tergantung pada prosedur rumah sakit dan tujuan irigasi. Biasanya digunakan cairan normal salin, sodium bikarbonat, air ledeng dan lain-lain. Jumlah cairan bervariasi antara 1000 sampai dengan2000 ml dan cairan dihangatkan pada suhu 40,50C.
Intilasi vagina dilakukan berbagai tujuan, antara lain untuk mengobati infeksi atau menghilangkan rasa nyeri, maupun gatal pada vagina. Obat yang dimasukkan melalui vagina dikemas dalam bentuk yang bervariasi antara lain : Cream, Jelly, Foam atau Supositoria.



Cara kerja irigasi dan instilasi vagina :
1.      Pastikan tentang adanya order pengobatan
2.      Siapkan peralatan
Untuk irigasi vagina :
a.       Set irigasi vagina (sering dikemas untuk pemakaian disposable) yang terdiri dari ujung lancip/corong, pipa, klem dan kantong cairan.
b.      Perlak
c.       Cairan irigasi
d.      Kapas lembab
e.       Thermometer
f.        Bedpan
g.       Kertas tissue
h.       Sarung tangan
i.         Tiang/standar infuse
Untuk instilasi vagina :
3.      Beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan dan jelaskan rasa tidak nyaman yang mungkin dirasakan selama tindakan. Buka/suruh pasien menanggalkan pakaian bawah (tetap jaga privacy pasien)
4.      Atur posisi pasien dan tutupi bagian tubuh yang tidak digunakan. Pada pelaksanaan irigasi, pertama-tama pasang perlak dibawah bokong pasien, pasang bedpan dan atur posisi pasien diatas bedpan dengan bahu lebih rendah dan atur posisi pasien di atas bedpan dengan bahu lebih rendah dari pada panggul. Di bawah bagian lumbal dapat dipasang bantal untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Pada tindakan instilasi obat, pasien diatur dalam posisi berbaring dengan lutut ditekuk dan direntangkan ke luar.
5.      Atur peralatan yang akan digunakan :
Untuk irigasi : tutup/klem pipa, gantung tabung cairan pada tiang infuse setinggi 30 cm dari vagina. Alirkan/isi pipa dan corong dengan air.
Untuk instilasi : buka pembungkus obat supositoria dan letakkan di atas pembungkusnya yang terbuka. Bila menggunakan aplikator, isi aplikator dengan krim, jelly atau foam sesuai kebutuhan.
6.      Kaji keadaan dan bersihkan arca perineal dengan cara pakailah sarung tangan, inspeksi lubang vagina untuk mengetaui setiap peradangan, perhatikan baud an setiap cairan yang keluar. Lakukan pembersihan perineal untuk menghilangkan mikroorganisme.
7.      Masukkan cairan irigasi, supositoria, krim, foam atau jelly sesuai dengan kebutuhan.
Untuk irigasi : alirkan sedikit cairan di area perineal, pelan-pelan masukkan corong sedalam antara 7 sampai dengan 10 cm kemudian alirkan cairan pelan-pelan. Setelah semua cairan masuk dan keluar, ambil corong dan bantu pasien duduk di atas bedpan.
Untuk supositoria : lumasi ujung supositoria dan ujung jari telunjuk anda dengan jelly. Buka labia sehingga lubang vagina dapat dilihat. Dorong supositoria ke dalam lubang vagina dengan jari telunjuk sedalam 8 – 10 cm. setelah supositoria masuk, tarik jari telunjuk anda dan anjurkan pasien tetap dalam posisi supinasi selama 5 sampai dengan 10 menit.
Untuk krim, Jelly atau foam : pelan-pelan masukkan aplikator kedalam lubang vagina, dorong pengokang secara hati-hati sampai obat habis kemudian keluarkan aplikator. (Gbr. 4 – 17)
8.      Setelah selesai keringkan area perineal, ambil bedpan dan perlak dan atur pasien dalam posisi yang nyaman.
9.      Bereskan peralatan dan catat tindakan anda.
10.  Kaji respon pasien yang antara lain meliputi : rasa sakit dan kotoran atau cairan yang keluar.








Gambar 4-17. Instilasi vaginal krim dengan aplikator
Pemberian obat per rectal dan supositoria
 Pengertian
Merupakan cara pemberian obat dengan memasukkan obat melalui anus atau rektum, dengan tujuan memberikan efek lokal dan sistematik.
Tindakan pengobatan ini disebut pemberian obat suppositoria yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapim obat, menjadikan lunak pada daerah feses dan merangsang buang air besar.
Contoh pemberian obat yang memiliki efek lokal seperti obat dulcolac supositoria yang berfungsi secara lokal untuk meningkatkan defekasi dan contoh efek sistemik pada obat aminofilin suppositoria dengan berfungsi mendilatasi bronkus.
Pemberian obat suppositoria ini diberikan tepat pada dinding rektal yang melewati sfingter ani interna. Kontra indikasi pada pasien yang mengalami pembedahan rektal.
Obat dalam bentuk cairan yang banyak diberikan melalui rectal yang sering disebut enema. Obat tertentu dalam bentuk kapsul yang besar dan panjang (supositoria) juga dikemas untuk diberikan melalui anus/rectum. Ada beberapa keuntungan penggunaan obat supositoria antara lain :
a.         Supositoria tidak menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan bagian atas.
b.        Beberapa obat tertentu dapat diabsorbsi dengan baik melalui dinding permukaan rectum
c.         Supositoria rectal diperkirakan mempunyai tingkatan (titrasi) aliran pembuluh darah yang besar, karena pembuluh darah vena pada rectum tidak ditransportasikan melalui liver (Hahn, Ocstrelch, Barkin, 1986).
Ada beberapa prinsip yang harus dipegang oleh perawat dalam memberikan obat dalam bentuk enema dan supositoria, antara lain :
a.         Untuk mencegah peristaltic, lakukan enema retensi secara pelan dengan cairan (tidak lebih dari 120 ml) dan gunakan rectal tube kecil.
b.        Selama enema berlangsung, anjurkan pasien berbaring miring ke kiri dan bernafas melalui mulut untuk merilekskan spingter.
c.         Retensi enema dilakukan setelah pasien buang air besar.
d.        Anjurkan pasien untuk berbaring telentang selama 30 menit setelah pemberian enema
e.         Obat supositoria harus disimpan di lemari es karena obat akan melelh pada suhu kamar.
f.          Gunakan pelindung jari atau sarung tangan. Gunakan jari telunjuk untuk pasien dewasa dan jari ke empat pada pasien bayi. Anjurkan pasien berbaring ke kiri dan bernafas melalui mulut agar spingter rileks. Pelan-pelan dorong supositoria ke dalam.
g.         Anjurkan pasien tetap miring ke kiri selama 20 menit setelah obat masuk.
h.         Bila diperlukan, beritahu pasien cara mengerjakan sendiri enema atau memasukkan supositoria.

5.1.5.2 Teknik Pemberian Obat via Anus/ Rektum
Alat dan bahan:
1.      Obat suppositoria dalam tempatnya.
2.      Sarung tangan.
3.      Kain kassa.
4.      Vaselin/ penicilin/ pelumas.
5.      Kertas tisu.

Prosedur kerja:
1.      Cuci tangan.
2.      Jelaskan prosedur yang akan dikerjakan.
3.      Gunakan sarung tangan.
4.      Buka pembumgkus obat dan pegang dengan kain kasa.
5.      Oleskan ujung pada obat suppositoria dengan penicilin.
6.      Regangkan glutea dengan tangan kiri, kemudian masukkan suppositoria dengan perlahan melalui anus, sfingter anal interna dan mengenai dinding rektal kurang lebih 10 cm pada orang dewasa, 5 cm pada bayi atau anak.
7.      Setelah selesai tarik jari tangan dan bersihkandaerah sekitar anal dengan tisu.
8.      Anjurkan pasien untuk tetap berbaring telentang atau miring selama kurang lebih 5 menit.
9.      Setelah selesai lepaskan sarung tangan kedalam bengkok.
10.  Cuci tangan.
11.  Catat obat, jumlah dosis, dan cara pemberian.

5.1.6        Pemberian obat kulit (Desmatologis)
5.1.6.1  Pengertian
Merupakan cara memberikan obat pada kulit dengan mengoleskan bertujuan mempertahankan hidrasi, melindungi kulit, mengurangi iritasi kulit, atau mengetasi infeksi. Pemberian obat kulit dapat bermacam-macam seperti krim, losion, aerosol, dan sprei.
Obat dapat diberikan pada kulit dengancara digosokkan, ditepukkan, disemprotkan, dioleskan dan iontoforesisi (pemberian obat pada kulit dengan listrik). Prinsip kerja pemberian obat pada kulit antara lain meliputi :
a.       gunakan teknik steril bila ada luka pada kulit
b.      bersihkan kulit sebelum memberikan obat (bahan pembersih di tentukan oleh dokter)
c.       ambil obat kulit dari tempatnya dengan batang spatel lidah dan bukan dengan tangan.
d.      Bila obat perlu digosok, gunakan tekanan halus.
e.       Oleskan obat tipis- tipis kecuali ada petunjuk lain.
f.        Obat dalam bentuk cair harus diberikan dengan aplikator
g.       Bila digunakan kompres atau kapas lembab maka pelembab harus steril

Cara pemberian Kulit
Alat dan Bahan:
1.      Obat dalam tempatnya.
2.      Pinset anatomis.
3.      Kain kasa.
4.      Kertas tisu.
5.      Balutan.
6.      Pengelas.
7.      Air sabun, air hangat.
8.      Sarung tangan.

Cara Kerja:
1.      Cuci tangan.
2.      Jelaskan prosedur yang akan dikerjakan.
3.      Pasang pengalas di bawah daerah yang akan dilakukan tindakan.
4.      Gunakan sarung tangan.
5.      Bersihkan daerah akan diberikan obat dengan air hangat (apabila terdapat kulit mengeras) dan gunakan pinset anatomis.
6.      Berikan obat sesuai dengan indikasi dan cara pemakaian seperti mengoleskan, mengompres.
7.      Kalau perlu tutup dengan kain kasa atau balutan pada daerah diobati.
8.      Cuci tangan.

 Irigasi dan Instilasi Mata
Pengertian
Irigasi mata merupakan suatu tindakan pencucian kantung konjungtiva mata. Berbagai bentuk spuit tersedia khusus untuk melakukan irigasi tetapi bila tidak ada dapat digunakan harus dalam keadaan steril.
Obat mata biasanya berbentuk cairan (obat tetes mata) dan ointment/ obat salep mata yang dikemas dalam tabung kecil. Karena sifat selaput lender dan jaringan manta yang lunak dan responsive terhadap obat, maka obat mata biasanya diramu dengan kekuatan yang rendah misalnya 2 %.

Cara irigasi dan instilasi mata :
1.      Pastikan tentang adanya order pengobatan
2.      Siapakan peralatan
Untuk irigasi :
a.       Tabung steril untuk tempat cairan
b.      Cairan irigasi sebanyak 60 sampai dengan 240 cc dengan suhu 37 C.
c.       Alat irrigator mata atau spuit steril
d.      Bengkok steril
e.       Bola kapas steril
f.        Cairan normal salin steril (bila diperlukan)
g.       Perlak
h.       Sarung tangan steril
Instilasi :
  1. Obat yang diperlukan
  2. Kapas kering steril
  3. Kapas basah (normal saline) steril
  4. Kassa / penutup mata dan plester
  5. Sarung tangan steril

3.      Siapkan pasien yaitu dengan memberitahu pasien tentang irigasi/ pengobeta yang akan diberikan. Bantu pasien untuk mengatur posisi duduk atau berbaring sambil memiringkan kepala kea rah mata yang sakit. Pasang kait penutup untuk melindungi pasien dan baju pasien agar tidak basah dan pasang bengkok di bawah mata yang sakit (pada pelaksanaan irigasi).
4.      Kaji mata pasien. Amati adanya gangguan pada mata misalnya wana merah, adanya kotoran, bengkak, pandangan kabur, mata sering dikucek- kucek dan lain- lain.
5.      Bersihkan kelopak mata dan bulu mata dengan bola kapas yang telah dibasahi dengancairan irigasi dengan arah dari kantus dalam menuju kantus luar.
6.      Masukkan cairan irigasi atau obat mata.
7.      bersihkan mata dengan cara mengusap dari arah dalam keluar
8.      tutup mata bila diperlukan dan kaji respon pasien
9.      bereskan alat yang digunakan dan cacat tindakan anda dengan singkat dan jelas.





 






Gambar 4.15. Instilasi mata

Instilasi hidung
Obat yang diberikan melalui tetesan hidung (instilasi hidung) diberikan biasanya dengan maksud menimbulkan astringent efek yang merupakan efek obat dalam mengkerutkan selaput lender yang bengkak. Obat tetes hidung diberikan pula dengan tujuan untuk menyembuhkan infeksi pada rongga atau sinus- sinus hidung.

Cara kerja instilasi hidung :
2.      Pastikan tentang adanyaorder pengobatan
3.      Siapakan peralatan :
a.       Obat tetes hidung
b.      Bola kapas
4.      beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakuka dan siapkan pasien. Posisi pasien diatur berbaring terlentang dengan bagian bahu disokong sebuah bantal sehingga kepala mengadah. Anjurkan pasien untuk menghembuskan napas sedikit kuat sehingga lubang hidung akan bersih.
5.      elevasikan lubang hidung dengan cara menekan ujung hidung dengan jempol
6.      pegang obat tetes hidung di atas lubang hidung dan teteskan obat pada bagian tengah konka superior tulang etmoidalis (beritahu pasien untuk bernafas melalui mulut sewaktu obat diteteskan).
7.      anjurkan pasien tetap dalam posisi ini selama 1menit sehingga obat dapat sampai pada semua dinding hidung.
8.      aturlah posisi pasien yang nyaman dan beritahu untuk bernapas melalui hidung kembali.
9.      Bereskan peralatan dan catat tindakan anda secara jelas dan singkat.

Cara kerja irigasi dan istilasi telinga :
1.      Pastikan tentang adanya order pengobatan.
2.      Siapkan peralatan
Untuk irigasi :
a.       Tabung berisi cairan irigasi dengan jumlah dan konsentrasi sesuai yang dikehendaki.
b.      Alat suntik/ spuit
c.       Bengkok
d.      Perlak handuk
e.       Kapas pengusap
f.        Bola kapas
g.       Sarung tangan (kadang- kadang)

Untuk intilasi :
  1. Obat tetes dalam tempatnya
  2. Kapas di bungkus dalam kasa
  3. Batang karet (tambahan) terutama digunakan untuk tetesan terakhir untuk mencegah gerakan tiba- tiba anak atau pasien tidak sadar
  4. Bola kapas

3.       Beritahu dan siapkan pasien.
Untuk irigasi : beritahu pasien tentang rasa penuh, hangat dan mungkin sakit yang akan dialami pada saat cairan sampai pada gendering telinga. Bantu pasien duduk atau berbaring dengan posisi kepala menghadap kea rah telinga yang sakit. Pasang perlak handuk di bahu pasien dan pegang bengkok di bawah telinga.
Untuk instilasi : Bantu pasien berbaring ke samping dengan posisi telinga yang sakit menghadap ke atas.

4.      Kaji keadaan daun telinga dan saluran telinga bagian luar. Lakukan inspeksi untuk mengetahui adanya kemerah- merahan, lecet dan setiap kotoran yang keluar. Bila diperlukan gunakan otoskop dan bila ditemukan adanya benda asing atau gendering telinga (membrantimpani) tidak utuh, jangan lakukan irigasi dan laporkan keadaan ini pada perawatan senior.

5.      Bersihkan daun telinga dan lubang telinga dengan bola kapas basah.

6.      Siapkan peralatan :
Untuk irigasi : isi spuit dengancairan irigasi atau bila menggunakan tabung irigasi, angkat tabung ke atas dan alirkan cairan mengisi pipa.
Untuk instilasi : siapkan obat tetes yang diperlukan.

7.      Masukkan cairan irigasi atau obat tetes telinga
Untuk irigasi : buka daun telinga (untuk bayi daun telinga ditarik ke bawah, untuk dewasa ditarik ke atas belakang), masukkan ujung spuit dan pancarkan cairan pada dinding atas saluran telinga sesuai yang diperlukan. Bila sudah selesai, keringkan bagian luar telinga dengan kapas dan bantu berbaring ke samping kea rah telinga yang telah diirigasi.
Untuk Instilasi : hangatkan obat dengan tangan atau masukkan botol dalam cairan hangat beberapa detik. Buka dan luruskan lubang telinga dan teteskan obat pada sisi telinga. Tekan tragus secara hati-hati beberapa kali untuk membantu obat masuk. Anjurkan pasien tetap berbaring miring lebih kurang selama 5 menit. Pasang kapas pada lubang telinga (tidak ditekan) selama 15 sampai dengan 20 menit.(Gbr.4 – 16)

8.      Kaji respon pasien terhadap adanya rasa nyeri, keadaan saluran telinga, kotoran yang ada dan pada irigasi amati keadaan dan bau cairan yang keluar.

9.      Rapikan pasien dan catat tindakan anda secara singkat dan jelas


 






Terapi Panas Dingin
Pengertian
Merupakan tindakan dengan memberikan kompres hangat yang bertujuan memenuhi kebutuhan rasa nyaman, mengurangi atau membebaskan nyeri, mengurangi atau mencegah terjadinya spasme otot, dan memberikan rasa hangat.

Persiapan dan cara kerja
Alat dan Bahan:
1.      Botol berisi air panas (suhu 46-51,5 derajat)/ air hangat.
2.      Termometer air.
3.      Kain pembungkus.
Cara kerja:
1.      Cuci tangan.
2.      Jelaskan prosedur yang akan dikerjakan.
3.      Isi botol dengan air panas.
4.      Tutup botol yang telah di isis air panas kemudian dikeringkan.
5.      Masukkan botol ke dalam kantong kain, atau bila menggunakan kain, masukkan kain pada air hangat lalu diperas.
6.      Tempatkan botol/ kain yang sudah diperas pada daerah yang akan dikompres.
7.      Angkat botol setelah 20 menit, lalu isi lagi botol dan taruh pada daerah yang akan dikompres lagi.
8.      Catat perubahan yang terjadi selama tindakan.
9.      Cuci tangan.

Zid bath/ compres 
Pengertian
Merupakan tindakan dengan cara memberikan kompres dingin yang bertuuan memenuhi kebutuhan rasa nyaman, menurunkan suhu tubuh, mengurangi rasa nyeri, mencegah edema, dan mengontrol peredaran darah dengan meningkatkan vasokonstriksi.

Persiapan dan Cara Kerja
Alat dan Bahan:
1.      Termometer.
2.      Air dingin.
3.      Kain/ kantong pelindung.
4.      Kantong es atau sejenisnya.
Cara kerja:
1.      Cuci tangan.
2.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3.      Ukur suhu tubuh.
4.      Asupan air dingin pada kantong es atau bila menggunakan kain asupan kain pada air dingin lalu diperas.
5.      Letakkan kantong/ kain pada daerah yang akan dikompres seperti pada daerah axila, pada daerah yang sakit.
6.      Catat perubahan yang terjadi selama tindakan.
7.      Cuci tangan.

Manajemen nyeri
Ada beberapa cara untuk mengatasi nyeri yang dapat dilakukan oleh bidan, diantaranya:
1.      Mengurangi faktor yang dapat menambah nyeri misalnya ketidakpercayaan, kesalahpahaman, ketakutan, kelelahan, dan kebosanan.
a.       Ketidakpercayaan
Pengakuan bidan akan rasa nyeri yang diderita pasien dapat mengurangi nyeri. Hal ini dapat dilakukan melalui pernyataan verbal, mendengarkan dengan penuh perhatian mengenai keluhan nyeri pasien, dan mengatakan kepada pasien bahwa bidan mengkaji rasa nyeri pasien agar dapat lebih memahami tentang nyerinya.
b.      Kesalahpahaman
Mengurangi kesalahpahaman pasien tentang nyerinya akan membantu mengurangi nyeri. Hal ini dilakukan dengan memberitahu pasien bahwa nyeri yang dialami sangat individual dan pasien yang tahu secara pasti tentang nyerinya.
c.       Ketakutan
Memberikan informasi yang tepat dapat membantu mengurangi ketakutan pasien dengan menganjurkan pasien untuk mengekspresikan bagaimana mereka menangani nyeri.
d.      Kelelahan
Kelelahan dapat memperberat nyeri. Untuk mengatasinya, kembangkan pola aktivitas yang dapat memberikan istirahat yang cukup.
e.       Kebosanan
Kebosanan dapat meningkatkan rasa nyeri. Untuk mengurangi nyeri dapat digunakan pengelihan perhaian yang bersifat terapetik. Beberapa teknik pengalihan pehatian adalah bernapas pelan dan berirama, aktif mendengarkan musik, membayangkan hal-hal yang menyenangkan dan sebagainya.

2.      Memodifikasi stimulus nyeri dengan menggunakan teknik-teknik, seperti:
Teknik Latihan Pengalihan
a.       Menonton televisi.
b.      Berbincang-bincang dengan orang lain.
c.       Mendengarkan musik.
Teknik Relaksasi
Menganjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara, menghembuskannya secara perlahan, melemaskan otot-otot tangan, kaki, perut, dan punggung, serta mengulangi hal yang sama sambil terus berkonsentrasi hingga pasien merasa nyaman, tenang dan rileks.
Stimulasi Kulit
a.       Menggosok dengan halus pada daerah nyeri.
b.      Menggosok punggung.
c.       Menggunakan air hangat dan dingin.
d.      Memijat dengan air mengalir.


3.      Pemberian obat analgesik
Pemberian obat analgesikdilakukan guna menggangu atau memblok transmisi stimulus nyeri agar terjadi perubahan persepsi dengan cara mengurangi kortikal terhadap nyeri. Jenis analgesiknya adalah narkotika dan bukan narkotika. Jenis narkotika digunakan untuk menurunkan tekanan darah dan menimbulkan depresi pada fungsi vital, seperti respirasi. Jenis bukan narkotika yang paling banyak dikenal di masyarakat adalah aspirin, asetaminofen dan bahan antiinflamasi nonsteroid. Golongan aspirin (asetysalicylic acid) digunakan untuk memblok rangsangan pada sentral dan perifer keungkinan menghambat sintesis prostaglandin yang memiliki khasiat setelah 15 menit sampai 20 menit dan memuncak 1-2 menit. Aspirin juga menghambat agrgasitrombosit dan antagonis lemah terhadap vitamin K, sehingga dapat meningkatkan waktu perdarahan dan protrombin bila diberikan dalam dosis yang tinggi. Golongan asetaminofen sama seperti aspirin akan tetapi tidak menimbulkan perubahan kadar protrombin dan jenis nonsteroid anti inflamantry drug (NSAID) juga dapat menghambat prostaglandin dan dosis rendahdapat berfungsi sebagai analgesik. Kelompok obat ini meliputi ibuprofen, mefenamic acid, fenoprofen, naprofen, zomepirac dan lain-lain.

4.      Pemberian stimulator listrik, yaitu dengan memblok atau mengubah stimulus nyeri dengan stimulus yang kurang dirasakan. Bentuk stimulus nyeri dengan stimulus yang kurang dirasakan. Benuk stimulator metode stimulus listrik meliputi:
a.       Transcutaneus electrial stimulator (TENS), yang digunakan untuk mengendalikan stimulus manual daerah nyeri tertentu dengan menempatkan beberapa elektrode di luar.
b.      Percutaneus implanted spinal cord epidural stimulator merupakan alat stimulator sum-sum tulang belakang dan yang diimplan di bawah kulit dengan transistor timah penerimaan yang dimaksudkan ke dalam kulit pada daerah epidural dan columna vetebrae.
c.       Stimulator columna vetebrae, sebuah stimulator dengan stimulus alat penerima abdomen yakni lektroda yang ditanam dengan cara bedah pada dorsum sum-sum tulang belakang.

 

0 komentar:

Poskan Komentar