Jumat, 02 Desember 2011

STRUKTUR PAYUDARA DAN FISIOLOGI LAKTASI

STRUKTUR PAYUDARA DAN FISIOLOGI LAKTASI

Kelenjar mamae / payudara (buah dada) adalah perlengkapan organ reproduksi pada wanita dan mengeluarkan air susu. Bentuk buah dada cembung kedepan dengan putting ditengahnya, yang terdiri atas kulit dan jaringan erektil dan berwarna tua payudara terletak dibawah kulit dan diatas otot dada merupakan perubahan dari kelenjar payudara.

Payudara dewasa beratnya kira-kira 200 gram, yang kiri umumnya lebih besar dari yang kanan. Pada waktu hamil payudara membesar, mencapai 600 gram dan pada ibu menyusui 800 gram selama 9 bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru lahir.

STRUKTUR PAYUDARA



1. Anatomi Payudara

Kelenjar mamae atau payudara adalah perlengkapan pada organ reproduksi pada wanita dan mengeluarkan air susu. Buah dada terletak di dalam fasia superfisialis di daerah pektoral antara sternum dan axila dan melebar dari kira-kira iga kedua atau ketiga sampai ke iga keenam atau ketujuh. Berat dan ukuran buah dada berlain-lainan. Pada masa pubertas membesar, dan bertambah besar selama hamil dan sesudah melahirkan, dan menjadi atrofik pada usia lanjut.

Bentuk buah dada cembung ke depan dengan putting di tengahnya, yang terdiri atas kulit dan jaringan erektil dan berwarna tua. Konstituen utama payudara adalah sel kelenjar disertai duktus terkait serta jaringan lemak dan jaringan ikat dalam jumlah bervariasi. Payudara dibagi menjadi bagian atai lobus oleh septum fibrosa, yang berjalan dari belakang puting payudara ke arah otot pektoralis.

2. Struktur Makroskopis



Ada tiga bagian utama payudara, yaitu :

1. Korpus (badan), yaitu bagian yang membesar

http://htmlimg4.scribdassets.com/9dipv73ykwqgts0/images/4-97cc0806b4/000.jpg



2. Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah

3. Papilla atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara.

Puting payudara dikelilingi oleh areola, suatu daerah berpigmen yang ukurannya bervariasi, yang bertambah gelap saat hamil serta kaya akan pasokan pembuluh darah dan serat saraf sensorik. Disekitar puting payudara terdapat tuberkel Montgomeri, kelenjar sebasea yang mengalami hipertrofi dan menjadi menonjol saat hamil, menghasilkan pelumas dan memberi perlindungan. Pemakaian sabun dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko kerusakan puting payudara, terutama kekeringan dan retak. Kepekaan puting payudara dan daerah di sekitarnya sangat meningakt segera setelah persalinan. Persiapan menyebabkan influks implus saraf aferen ke hipotalamus yang mengontrol laktasi dan perilaku ibu.

http://htmlimg2.scribdassets.com/9dipv73ykwqgts0/images/5-9e8f12906a/000.jpg

Ada empat masam bentuk puting, yaitu bentuk normal/umum, pendek/datar, panjang dan terbenam (inverted). Namun, bentuk- bentuk puting ini tidak selalu berpengaruh pada proses laktasi, karena pada dasarnya bayi menyusu pada payudara ibu bukan pada puting. Pada beberapa kasus dapat terjadi dimana putting tidak lentur, terutama pada bentuk puting tebenam, sehingga butuh penanganan khusus.

3.     Struktur Mikroskopis



Di dalam badan payudara terdapat bangunan yang disebut alveolus, yang merupakan tempat air susu diproduksi. Dari alveolus ini Air Susu Ibu (ASI) dialirkan ke dalam saluran kecil (diktulus) beberapa saluran kecil bergabung membentuk saluran yang lebih kecil ( duktus). Di bawah areola, saluran yang besar ini   mengalami pelebaran yang disebut sinus latiferus. Akhirnya semua saluran yang besar ini memusat ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran, terdapat otot polos yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar.

Masing-masing dari 15 sampai 20 lobus, yang dipisahkan oleh jaringan ikat, mengandung jaringan glandular yang tersusun sebagai suatu sistem duktus-alveolus. Sel sekretorik alveolus berkelompok- kelompok seperti buah anggur di sekitar sistem duktus yang bercabang-cabang, yang menyatu membentuk duktus laktiferosa utama menuju puting payudara. Duktus laktiferosa melebar membentuk ampula atau sinus, tepat di dasar puting payudara dan terbuka ke eksterior melalui duktus ejektorius.

http://htmlimg4.scribdassets.com/9dipv73ykwqgts0/images/6-adca93697e/000.jpg

4. Tahap-tahap Perkembangan Payudara

Saat lahir, payudara sebagian besar terdiri atas duktus laktiferus dengan sedikit, jika ada alveoli. Kelenjar mammae yang rudimeter ini memiliki sedikit fungsi sekretorik (air susu palsu) dalam beberapahari setelah lahir. Sekresi payudara pada masa nenatal terjadi akibat kadar prolaktin yang tinggi pada bayi baru lahir setelah pajanan payudara janin sebelumnya terhadap konsentrasi estrogen plasenta yang tinggi selama kehamilan. Setelah estrogen plasenta hilang dari sirkulasi nenatal, payudara memasuki fase tenang sampai pubertas. Pada pubertas, estrogen ovarium menginduksi pertumbuhan sistem duktus laktiferus. Duktus-duktus ini bercabang-cabang selama pertumbuhannya dan ujung duktus ini membentuk massa sel kecil dan padat. Struktur ini akan membentuk aveolu lobular. Payudara dan alveoli kemudian membesar. Saat menarche, sekresi esterogen dan progesteron siklik dimulai dan akan terjadi fase tambahan pada pertumbuhan duktus dan lobulus yang rudimeter. Kortikosteroid adrenal selanjutnya akan meningkatkan perkembangan duktus. Payudara terus membesar selama beberapa waktu setelah menarke akibat timbunan lemak dan jaringan ikatan bahan. Deferensiasi dan pertumbuhan akhir payudara tidak akan terjadi sampai kehamilan.

Pertumbuhan dan perkembangan payudara dapat dibagi menjadi empat fase : istirahat, perkembangan (kehamilan), sekresi susu (laktasi), dan involusi. Saat lahir, struktur hanya sebuah puting payudara dan beberapa duktus rudimenter, dengan sedikit atau tanpa alveolus yang mencerminkan asal evolusi dari modifikasi kelenjar keringat apokria. Sampai pubertas, saatnya

http://htmlimg1.scribdassets.com/9dipv73ykwqgts0/images/8-d05debfb4c/000.jpg

perkembangan yang terjadi mungkin adalah percabangan duktus. Terjadi penurunan insiden kanker payudara pada populasi yang banyak mengonsumsi fito-estrogen (senyawa mirip-esterogen yang berasal dari tumbuhan). Diperkirakan fito-esterogen merangsang perkembangan sel payudara pada masa anak dan pubertas sebelum kehamilan. Sel yang berdiferensiasi baik ini mungkin lebih resiten terhadap pembentukan tumor (Adlecreutz, 1995).



5. Kolostrum

Kolostrum berasal dari bahasa latin adalah susu yang dihasilkan oleh kelenjar susu dalam tahap akhir kehamilan dan beberapa hari setelah kelahiran bayi. Kolostrum warnanya kekuningan dan kental penting bagi bayi karena mengandung banyak gizi dan zat-zat pertahanan tubuh. Kolostrum (196) mengandung banyak karbohidrat, protein, anti body dan sedikit lemak (yang sulit dicerna bayi) bayi memiliki sistem pencernaan kecil dan kolostrum memberinya gizi dalam konsentrasi tinggi. Kolostrum juga mengandung zat yang mempermudah bayi membuang air besar pertama kali yang disebut meconium. Hal ini membersihkannya dari Bilirubin, yaitu sel darah merah yang mati yang diproduksi ketika kelahiran.

Kolostrum adalah cairan prasusu yang dihasilkan oleh ibu dalam 24 – 36 jam pertama setelah melahirkan (paska persalinan) kolestrum mensuvlei beberapa faktor kekebalan (Faktor imun) dan faktor pertumbuhan pendukung kehidupan dengan kombinasi zat gizi (nutrien) yang sempurna untuk mejamin kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan kesehatan bagi bayi yang baru lahir.

Namun karena kolostrum manusia tidak selalu ada, maka kita harus bergantung pada sumber lain. Ada lebih dari 90 bahan Bioaktif Alam dalam kolostrum komponen utamanya dikelompokan menjadi 2 yaitu : faktor umum dan faktor pertumbuhan. Kolostrum juga mengandung berbagai jenis vitamin, mineral, dan asam amino yang seimbang. Semua unsur ini bekerja secara sinergis dalam memulihkan dan menjaga kesehatan tubuh.

Penelitian secara medis menunjukan bahwa kolostrum :

·         Mempunyai faktor imunitas yang kuat (Immunoglobium, lactoferm, Cytokines, Lactalbumein, Glicoprotein, dan lain-lain) yang membantu melawan virus, bakteri, jamur, alergi dan Toksin.

·         Membantu mengatasi berbagai masalah usus, Autoimunitas, Arthiritis, Alergi.

·         Membantu menyeimbangkan kadar gula dalam darah dan sangat bermanfaat bagi penderita diabetes.

·         Kaya akan kandungan T9F-B yang mendukung terapi penderita kanker pembentukan tulang dan mencegah penyakit Herpes.

·         Mengandung Imunoglobulin dan telah terbukti sebagai Anti Virus, Anti Bakteri, Anti Jamur, dan Anti Toksin.



Kolostrum disekresi selama kehamilan dan tampak lebih awal pada ibu yang payudaranya telah berfungsi secara penuh sebelumnya. Pada saat permulaan diproduksi, kolostrum berupa cairan jernih seperti air, tetapi kemudian menjadi lebih kuning warnanya dan konsistensinya lebih menyerupai krim yang encer menjelang akhir kehamilan.

Setelah kelahiran bayi, warnanya terus berubah, sampai hari ke-3 pascapartum kolostrum tampak lebih menyerupai air susu, warnanya menjadi lebih pucat dan konsistensinya menjadi lebih encer. Kolostrum ini merupakan fase peralihan (transisi), karena perkembangan menjadi air susu yang sebenarnya memerlukan waktu 10 sampai 14 hari.



Kolostrum mengandung :

Protein : 8,5%                                                               Garam mineral : 0,4%

Lemak : 2,5%                                                                Air : 85,1%

Karbohidrat : 3,5%                                                       Leukosit

Corpulus colostrum                                                    Sisa-sisa epitel yang mati

Vitamin A, B,C, D, E, dan vitamin K dalam jumlah yang sangat sedikit.

Nilai kalori = 80 kilo joule / 30 ml.



Dengan menyusukan bayi, apabila bayi merasa lapar (pemberian susu sesuai kebutuhan) dan selama bayi menginginkan, maka tidak hanya memberikan kepuasan kepada bayi, tetapi juga akan merangsang produksi prolaktin dan akan mempercepat produksi air susu yang sebenarnya, meningkatkan kualitasnya dan membantu memantapkan refleks neurohormonal (pengeluaran air susu) (Howie & Mc Nelly, 1980)





Fungsi kolostrum, yaitu:

1.      Mempersiapkan system sekretorik payudara untuk memproduksi air susu.

2.      Minum kolostrum secara awal, akan membantu membersihkan mekonium dari usus bayi.

3.      Mempunya nilai gizi yang tinggi. Kolostrum mengandung protein dengan proporsi yang tinggi, sangat bergizi dan memberikan semua yang dibutuhkan bayi.

4.      Untuk perlindungan terhadap infeksi / antibody bagi bayi.



Faktor yang terdapat pada kolostrum, sehingga dapat mencegah infeksi neonatal adalah :

1.      Imunoglobulin

Imunoglobulin bekerja dalam saluran usus dan dapat juga diserap melewati dinding usus kedalam sistem sirkulasi bayi. Imunoglobulin juga melapisi dinding usus, dengan demikian dapat mencegap penyerapan protein yang mungkin menyebabkan reaksi alergi.

2.      Laktoferin

Laktoferin merupakan protein yang mempunyai afinitas tinggi terhadap zat besi. Bersama dengan imunoglobulin A, laktoferin mengambil zat besi yang diperlukan untuk perkembangan kuman E. Coli , stafilokokus, dan ragi. Kadar laktoferin tertinggi dalam kolostrum dan ASI adalah pada 7 hari pertama postpartum.

Laktoferin juga terdapat pada susu sapi, tetapi laktoferin ini akan rusak pada proses pasteurisasi. Laktoferin tidak terdapat dalam makanan buatan (formula). Efek imunologis laktoferin akan hilang jika makanan bayi ditambah zat besi.

3.      Lisosom

Lisosom bersama IgA mempunyai fungsi anti bakteri dan juga menghambat pertumbuhan berbagai macam virus. Kadar lisosom pada kolostrum dan ASI lebih besar dari pada kandungan lisosom pada susu sapi.

4.      Faktor antitripsin

Faktor antitripsin akan menghambat kerja tripsin (memecah protein), sehingga akan menyebabkan imunoglobulin pelindung tidak akan dipecah tripsin. 

5.      Faktor bifidus

Faktor bifidus adalah gula mengandung nitrogen. Faktor bifidus ini dibutuhkan laktobasilus dalam pertumbuhannya. Laktobasilus didalam usus bayi menghasilkan berbagai asam yang akan mencegah pertumbuhan kuman patogen . Faktor bifidus ini terdapat dalam kolostum dan ASI saja, sedangkan pada susu sapi tidak. Dengan demikian, penting bahwa makanan pertama bayi adalah kolostrum, karena laktobasilus akan dihambat oleh susu sapi. Jika meminum susu sapi sekali saja akan memberikan efek yang merugikan terhadap flora usus selama 3 hari.



Faktor-faktor pelindung ini semua ada didalam kolostrum dan ASI yang matur. Kadar faktor ini akan berubah selama laktasi, sampai bayi mulai membentuk system imunnya sendiri.

INGAT :

1.      Pemberian kolostrum secara awal dan pemberian ASI yang terus menerus, paling tidak selama 4 bulan, merupakan perlindungan terbaik yang dapat diberikan kepada bayi terhadap penyakit.

2.      Bahkan hanya dengan sekali minum air susu sapi dapat menyebabkan kerusakan faktor-faktor perlindungan alami.

FISIOLOGI LAKTASI

Laktasi atau menyusui mempunyai dua pengertian, yaitu produksi ASI (prolaktin) dan pengeluaran ASI (oksitosin).

1.     Produksi  ASI (Prolaktin)

Pembentukan payudara dimulai sejak embrio berusia 18-19 minggu, dan berakhir ketika mulai menstruasi. Hormon yang berperan adalah hormon esterogen dan progesteron yang membantu maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin berfungsi untuk produksi ASI.

Gambar 1. Proses produksi ASI/ refleks prolaktin

Gambar 1. Proses produksi ASI/ refleks prolaktin

Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum keluar karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan progesteron akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca persalinan, sehingga terjadi sekresi ASI. Pada proses laktasi terdapat dua reflek yang berperan, yaitu refleks prolaktin dan refleks aliran yang timbul akibat perangsangan puting susu dikarenakan isapan bayi.

  1. Refleks prolaktin
  2. Refleks aliran (let down reflek)

Refleks Prolaktin

Akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, tetapi jumlah kolostrum terbatas dikarenakan aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron yang masih tinggi. Pasca persalinan, yaitu saat lepasnya plasenta dan berkurangnya fungsi korpus luteum maka estrogen dan progesteron juga berkurang. Hisapan bayi akan merangsang puting susu dan kalang payudara, karena ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik. Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus dan akan menekan pengeluaran faktor penghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya merangsang pengeluaran faktor pemacu sekresi prolaktin.
Faktor pemacu sekresi prolaktin akan merangsang hipofise anterior sehingga keluar prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu.
Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3 bulan setelah melahirkan sampai penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak akan ada peningkatan prolaktin walau ada isapan bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung. Pada ibu nifas yang tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal pada minggu ke 2 – 3. Sedangkan pada ibu menyusui prolaktin akan meningkat dalam keadaan seperti: stress atau pengaruh psikis, anastesi, operasi dan rangsangan puting susu

Refleks Aliran (Let Down Reflek)

Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan yang berasal dari isapan bayi dilanjutkan ke hipofise posterior (neurohipofise) yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormon ini menuju uterus sehingga menimbulkan kontraksi. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat, keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktus dan selanjutnya mengalir melalui duktus lactiferus masuk ke mulut bayi.

Faktor-faktor yang meningkatkan let down adalah: melihat bayi, mendengarkan suara bayi, mencium bayi, memikirkan untuk menyusui bayi. Faktor-faktor yang menghambat reflek let down adalah stress, seperti: keadaan bingung/ pikiran kacau, takut dan cemas.

Refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi

  1. Refleks menangkap (rooting refleks)
  2. Refleks menghisap
  3. Refleks menelan

Refleks Menangkap (Rooting Refleks)

Timbul saat bayi baru lahir tersentuh pipinya, dan bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Bibir bayi dirangsang dengan papilla mamae, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha menangkap puting susu.

Refleks Menghisap (Sucking Refleks)

Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh oleh puting. Agar puting mencapai palatum, maka sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi. Dengan demikian sinus laktiferus yang berada di bawah areola, tertekan antara gusi, lidah dan palatum sehingga ASI keluar.

Refleks Menelan (Swallowing Refleks)
Refleks ini timbul apabila mulut bayi terisi oleh ASI, maka ia akan menelannya.

2.     Pengeluaran ASI (Oksitosin)

Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat pada glandula pituitaria posterior, sehingga keluar hormon oksitosin. Hal ini menyebabkan sel-sel miopitel di sekitar alveoli akan berkontraksi dan mendorong ASI masuk dalam pembuluh ampula. Pengeluaran oksitosin selain dipengaruhi oleh isapan bayi, juga oleh reseptor yang terletak pada duktus. Bila duktus melebar, maka secara reflektoris oksitosin dikeluarkan oleh hipofisis.

Gambar 2. Proses pengaliran ASI/ refleks oksitosin

Gambar 2. Proses pengaliran ASI/ refleks oksitosin



3.     Pemeliharaan Laktasi

Dua faktor penting untuk pemeliharaan laktasi yaitu :

1.      Ransangan

Bayi perlu di susui sesering mungkin terutama pada hari – hari neonatal awal . Penting bahwa bayi ‘di fiksasi ‘ pada payudara dengan posisi yang benar apabila diinginkan untuk meningkatkan ransangan yang tepat . Ransangan gusi bayi sebaiknya berada pada kulit aerola sehingga tekanan diberikan pada ampula yang ada di bawahnya sebagai tempat di simpannya air susu . Dengan demikian bayi minum dari payudara bukan dari papila mamae ,jika ibu merasakan sakit saat menyusui maka berarti bayi tidak disusui dengan posisi yang benar .

Jika bayi tidak dapat menyusu dengan suatu alasan , maka ibu dapat memeras air susu dari payudaranya dengan tangan atau dengan pompa payudara .

 

                                                              Bayi menyusu





Meningkatkan kadar prolaktin                          melepas oksitosin















 




Meningkatkan           menghambat                   kontraksi              merangsang involusi

Produksi ASI                ovulasi                              sel mioepitel        uteri



 




                                                                                  ASI dikeluarkan

Bagan : fisiologi laktasi



2.      Pengosongan payudara secara sempurna

Bayi sebaiknya mengosongkan  satu payudara sebelum diberikan payudara yang lain . apabila tidak mengosongkan yang kedua , maka pada pemberian air susu yang berikutnya payudara yang kedua ini yang diberikan. Atau bayi mngkin sudah kenyang dengan satu payudara , maka payudara yang kedua diberikan pada pemberian air susu berikutnya.

Selain itu ada beberapa hal yang penting juga diperhatikan, yakni sebagai berikut :

Kesehatan umum

Ibu yang kesehatannya baik, yang telah melahirkan secara normal dan yang telah dipersiapkan secara memadai baik secara mental maupun secara fisik untuk pemberian air susu ibu selama antenatal, akan memulai fase laktasi dengan segala keuntungannya. Kesehatan umum ibu harus dipertahankan dan harus dicegah timbulnya anemia pada saat itu dengan pemberian diet yang seimbang seperti yang mereka makan sebelum melahirkan. Apabila ibu telah mengkonsumsi zat besi  saat antenatal, maka konsumsi zat besi tadi perlu diteruskan.

Istirahat yang cukup dan menghindari kecemasan merupakan faktor yang sangat penting, dan suasana di sekitar ibu harus tetap setenang mungkin. Sekarang kecemasan tidak lagi dipercaya dapat mempengaruhi refleks neurohormonal, walaupun demikian suasana yang menyenangkan sangat kondusif bagi laktasi yang berhasil dan ikatan ibu-bayi yang baik. Kelelahan diremehkan sebagai faktor yang ikut berperan dalam kegagalan pemberian air susu ibu.

Penopang dan Kebersihan

Seperti pada wanita di masa antenatal, kebanyakan para ibu lebih nyaman memakai bra, terutama pada hari ke-2 dan ke-3 saat payudara mulai terisi.  Jenis-jenis bra yang dipakai selama kehamilan juga cocok untuk dipakai sat postnatal. Kolostrum atau air susu ibu dapat menetes (keluar dengan sendirinya ) dari payudara, sehingga bantalan pengisap sekali pakai dapat dipakai di sebelah dalam bra.



Teknik memberi air susu

Setelah kelahiran  yang normal, maka bayi diberi minum air susu ibu. Apabila kelahiran tidak normal, maka pemberian susu dilakukan segera setelah kondisi ibu dan bayi memungkinkan. Pada beberapa jam pertama ibu biasanya lama mendekapkan bayinya pada payudara dan memberikan air susunya. Terdapat sedikit air susu di dalam payudara segera setelah melahirkan, namun refleks menghisap naluriah bayi sebaiknya dipuaskan jga. Pemberian yang pertama yang meskipun hanya sedikit akan memuaskan ibu dan bayi, dan harus dibantu oleh bidan terampil yang bisa mengajari ibu bagaimana memfiksasi bayi secara benar. Bayi sebaiknya diberi air susu ibu apabila lapar dan selama ia mau. Ibu harus yakin bahwa bayi telah mengosongkan payudara yang pertama sebelum diberikan payudara yang kedua. Apabila payudara yang kedua tidak dapat dikosongkan, maka bayi harus diberi payudara yang kedua pada pemberian air susu ibu berikutnya.

Kadar prolaktin meningkat sebanding dengan frekuensi minum air susu ibu. Makin sering bayi minum air  susu ibu, maka masa peralihan dari kolostrum menjadi air susu ibu yang matur akan makin singkat. Karena mengisap juga merangsang produksi oksitosin, maka akan makin cepat terjadinya refleks neurohormonal. Bayi sebaiknya juga diberi air susu ibu oleh ibunya pada malam hari, dan bukannya diberi makanan tambahan sekedar agar tidak mengganggu ibu pada malam hari. Produksi air susu ibu terus berlangsung pada malam hari, saat kadar prolaktin paling tinggi, dan apabila payudara tidak dikosongkan, maka alveoli akan mengalami kongesti (bendungan) dan terjadi pembengkakan karena air susu. Mengingat kenyataan bahwa air susu ibu diproduksi dalam responsnya terhadap permintaan, dan bahwa laktasi yang berhasil terutama tergantung pada pengosongan payudara yang efisien pada saat air susu di hasilkan.

Pemeriksaan harian

Pemeriksaan payudara dan papilla mammae harian untuk menilai aliran dan banyak nya air susu ibu serta untuk menyingkirkan adanya infeksi, memberikan kesempatan yang cukup untuk merencanakan pemberian minum selama 24 jam berikutnya.



Dorongan

Dorongan dan bantuan yang didapat oleh ibu pada setiap saat akan memperkuat dan mendukung faktor lain yang penting untuk laktasi yang berhasil.

·         Inisiasi pemberian air susu ibu secara dini

·         Letak bayi yang benar pada waktu memberi air susu ibu.

·         Lama dan frekuensi minum air susu ibu yang tidak dibatasi.

Apabila ibu telah dipulangkan dari rumah sakit, ia harus tahu kepada siapa harus berhubungan apabila ibu merasa memerlukan pertolongan.



Penekanan laktasi 

Apabila penekanan (supresi) laktasi dilakukan segera setelah melahirkan, maka jelas bahwa bayi tidak mendapatkan air susu ibu di bangsal bersalin. Apabila tidak terjadi penghisapan payudara oleh bayi, maka tidak terjadi perangsangan perlepasan prolaktin pada hari ke-3 atau ke-4 setelah melahirkan, bendungan pembuluh darah akan memperbesar pembuluh lactifer dan air susu ibu perlu diperas dengan hati-hati dan ini hanya untuk menghilangkan rasa tidak nyaman. Payudara perlu disanggah dengan baik dengan memakai bra. Rasa tidak nyaman dapat dihilangkan dengan pemberian analgetik ringan.

Obat-obatan

Estrogen sintetik, dapat dipakai untuk menekan pelepasan prolaktin, dan dengan demikian menghambat laktasi, tetapi obat ini diduga dapat m,eningkatkan resiko emboli dan karsinoma payudara dan sekarang jarang dipakai. Bromokriptin, menghambat pelepasan prolaktin.  

4. Susu Air Susu Ibu

Perubahan kolostrum menjadi air susu yang matur berlangsung bertahap selama 14 hari pertama kehidupan bayi . Kadang – kadang fase peralihan ini memerlukan waktu yang lebih lama  dan sangat bergantung pada apakah jaringan glandula mamae sudah di aktifkan sebelumnya atau baru pertama kali . Keadaan tersebut juga bergantung pada seberapa cepat  dan seberapa efektif bayi belajar menghisap . Bahkan air susu yang telah mengalami maturasi juga terdapat variasi yang besar dalam komposisi dan nilai kalori air susu ibu , yaitu bergantung pada masing – masing individu . ASI merupakan cairan yang alkalis (basa) , berwarna putih kebiruan dengan berat jenis 1031.

Rata – rata sampel air susu ibu jika dikumpulkan selama 24 jam mengandung :

·         Protein 1,5 % 

Protein lebih mudah dicerna oleh bayi jika dibandingkan dengan protein air susu sapi . Protein dari susu ( curd ) disebut kasein . Kadar protein yaitu laktalbumin dan laktoglobulin lebih besar pada air susu ibu dibanding air susu sapi.

                                                          

·         Garam mineral 0,2 %

Seperti natrium, kalsium, fosfor dan magnesium

·         Lemak 3,5 %                                                                      

·         Air 87,8 %

·         Karbohidrat 7,0 %                                                             

·         Vitamin seperti pada kolostrum

·         Faktor pelindung

Seperti immunoglobulin protektif, laktoferin, lisosom, faktor bifidus, dan antitripsin





 Sumber :

Verralls, Sylvia. 2003. Anatomi Dan Fisiologi Terapan Dalam Kebidanan . Jakarta : EGC

Roesli, U. 2005. Panduan Praktis Menyusui. Jakarta: Puspaswara.

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika






























0 komentar:

Poskan Komentar