Kesehatan merupakan kebutuhan dengan hak setiap insan agar dapat kemampuan yang melekat dalam diri setiap insan. Hal ini hanya dapat dicapai bila masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, berperan serta untuk meningkatkan kemampuan hidup sehatnya.
Kemandirian masyarakat diperlukan untuk mengatasi masalah kesehatannya dan menjalankan upaya peecahannya sendiri adalah kelangsungan pembangunan. GBHN mengamanatkan agar dapat dikembangkan suatu sistem kesehatan nasional yang semakin mendorong peningkatan peran serta masyarakat.
Kemampuan masyarakat perlu ditingkatkan terus menerus untuk menolong dirinya sendiri dalam mengatasi masalah kesehatan. Kegiatan pembinaan yang di lakukan oleh bidan sendiri antara lain mempromosikan kesehatan dalam pelayanan agar peran serta ibu, remaja, wanita, keluarga dan kelompok masyarakat di dalam upaya kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana meningkat. Ini sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat.
Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan aspek pelayanan kesehatan ,secara garis besar terdapat 2 jenis pelayanan kesehatan yaitu :
-Pelayanan preventif dan promotif,
Adalah pelayanan bagi kelompok masyarakat yang sehat,agar kelompok ini tetap sehat dan bahkan meningkat status kesehatannya.Pada dasarnya pelayann ini dilakukan oleh kelompok profesi kesehatan masyarakat.
-Pelayanan kuratif dan rehabilitative,
Adalah pelayanan kesehatan masyarakat yang sakit,agar kelompok ini sembuh dari sakit dan menjadi pulih kesehatannya.Pada prinsipnya pelayanan jenis ini dilakukan kelompok profesi kedokteran.
Maka berdasarkan jenis aspek pelayanan kesehatan ini,promosi kesehatan mencakup 4 pelayanan,yaitu:
A.Upaya Promotif.
Adalah upaya promosi kesehatan yang ditujukan untuk meningkatkan status/ derajad kesehatan yang optimal. Sasarannya adalah kelompok orang sehat. Tujuan upaya promotif adalah agar masyarakat mampu meningkatkan kesehatannya.Yang dalam suatu survey di Negara-negara berkembang,dalam suatu populasi hanya terdapat antara 80%-85% orang yang benar-benar sehat.
Apabila kelompok ini tidak memperoleh promosi kesehatan bagaimana memelihara kesehatan,maka kelompok ini akan menurun jumlahnya,dan kelompok orang yang sakit akan meningkat.
Contoh : Memberikan promosi kesehatan mengenai pemberian ASI eklusif pada ibu yang baru melahirkan. Bidan dapat memberikan informasitersebut kepada ibu, ayah atau keluarga bayi mengenai pentingnya ASI. Dalam praktiknya, bidan harus mampu mempromosikan kepada ibu bahwa ASI sangat penting bagi bayi. Pemberian ASI harus dianjurkan kepada setiap ibu karena ASI yang pertama (kolostrum) mengandung zar anti-bodi yang dapat mencegah infeksi pada bayi, bayi yang minum ASI jarang mengalami gastroenteritis, lemak dan protein ASI mudah dicerna, dapat mengeratkan hubungan ibu dan bayi serta ASI merupakan susu buatan alam yang lebih baik, suci hama, segar, murah, tersedia setiap waktu. Dengan alasan-alasan yang diberikan oleh bidan melalui promosi kesehatan diharapkan ibu bersedia melakukan anjuran yang diberikan oleh bidan.
B.Upaya Preventif
Adalah upaya promosi kesehatan untuk mencegah terjadinya penyakit. Bentuk kegiatannya adalah imunisasi, pemeriksaan antenatal care, postnatal care, perinatal dan neonatal. Sasaran promosi kesehatan pada aspek ini adalah kelompok masyarakat yang berisiko tinggi (high risk), misalnya kelompok ibu hamil dan menyusui,BBL, para perokok, obesitas (orang-orang kegemukan), para pekerja seks (wanita atau pria), dsb. Tujuan upaya promosi kesehatan pada kelompok ini adalah agar mereka tidak jatuh sakit atau terkena penyakit (primary prevention).
Contoh : Pemberian imunisasi pada bayi baru lahir, salah satunya yakni vaksin Hepaititis B.
Pemberian ini bertujuan untuk mencegah infeksi virus hepatitis B yang dapat penyakit serosis bahkan kanker hati. Kegiatan ini sebaiknya harus dilakukan sedini mungkin pada BBL.
C.Upaya Kuratif
Adalah upaya promosi kesehatan untuk mencegah penyakit menjadi lebih parah melalui pengobatan. Sasarannya adalah kelompok orang sakit (pasien) terutama penyakit kronis sperti asma,DM,TBC,rematik,hipertensi dan sebagainya. Tujuannya kelompok ini mampu mencegah penyakit tersebut tidak lebih parah (secondary prevention). Bentuk kegiatannya adalah pengobatan.
Contoh : Pengobatan therapi insulin pada penderita diabetes serta melakukan pengontrolan menu makanan (diet). Penatalaksanaan pengobatan dan penanganan difokuskan pada gaya hidup dan aktivitas fisik. Dalam hal ini, pengontrolan nilai kadar gula dalam darah menjadi kunci program pengobatan, yaitu dengan mengurangi berat badan, diet, dan berolahraga.
D.Upaya Rehabilitatif
Adalah upaya promosi kesehatan untuk memelihara dan memulihkan kondisi/ mencegah kecacatan. Sasarannya adalah kelompok orang yang baru sembuh dari penyakit. Tujuannya adalah pemulihan dan pencegahan kecacatan (tertiary prevention).
Contoh : Pemberian penyuluhan/pendidikan pada pasien penderita kanker agar senantiasa menjaga kesehatannya, baik dengan rutin menjalani terapi pengobatan,dan budaya hidup sehat, agar bisa menurunkan kondisi sakit dan mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki. Selain itu juga bisa membentuk kegiatan/ lembaga sosial bagi para penderita kanker agar bisa mengoptimalkan kemampuan penderita kanker sekaligus memberikan dorongan dan motivasi untuk tetap bertahan bagi mereka.
Furunkel (bisul) adalah peradangan pada folikel rambut pada kulit dan jaringan sekitarnya yang sering terjadi pada daerah bokong, kuduk, aksila, badan. Tangkai furunkel dapat terbentuk pada lebih dari satu tempat yang biasa disebut sebagai furunkulosis.
2.Etiologi
Furunkel disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah :
a.Iritasi pada kulit
b.Kebersihan kulit yang kurang terjaga
c.Daya tahan tubuh yang rendah
d.Infeksi oleh Staphylococcus Aureus
3.Patofisiologi
Infeksi dimulai dari peradangan pada folikel rambut pada kulit (folikulitis) yang menyebar pada jaringan sekitarnya.Radang nanah yang dekat sekali dengan kulit disebut pustule. Kulit diatasnya sangat tipis,sehingga nanah di dalamnya dapat dengna mudah mengalir keluar.Sedangkan bisulnya sendiri berada pada daerah kulit yang lebih dalam.
Kadang-kadang nanah yang berada dalam bisul diserat sendiri oleh tubuh tetapi lebih sering mengalir sendiri melalui lubang pada kulit.
4.Gejala Klinis
Gejala yang timbul dari adanya furunkel bervariasi tergantung dari beratnya penyakit. Gejala yang sering ditemui pada furunkel adalah :
a.Nyeri pada daerah ruam
b.Ruam pada derah kulit berupa nodus eritematosa yang berbentuk kerucut dan memiliki pustule
c.Nodul dapat melunak menjadi abses yang berisi pus dan jaringan nekrotik yang dapat pecah membentuk fistel dan keluar melalui lobus minoris resistenstae.
d.Setelah seminggu kebanyakan akan pecah sendiri dan sebagian dapat menghilang dengan sendirinya.
5.Penatalaksanaan
Asuhan yang diberikan pada neonatus dengan furunkel tergantung dari penyakit yang dialaminya. Asuhan yang lazim diberikan adalah :
a.Kebanyakan furunkel tidak membutuhkan pengobatan dan akan sembuh dengan sendirinya.
b.Pemeliharaan kebersihan daerah sekitar yang mengalami furunkel serta daerah sekitarnya.
c.Pengobatan topikal, lakukan kompres hangat untuk mengurangi nyeri dan melunakkan nodul. Kompres hangat dapat dilakukan sambil menutup ruam untuk mencegah penularan ke daerah lainnya.
d.Jangan memijat furunkel terutama didaerah hidung dan bibir atas karena dapat menyebabkan penyebaran kuman secara hematogen.
e.Bila furunkel terjadi didaerah yang janggal seperti padahidung dan telinga maka dapat berkolaborasi dengan dokter untuk melakukan insisi.
f.Jika mungkin dapat membuka bisul dengan cara ;
Beri penjelasan apa yang akan dilakukan atau inform consent
Minta seseorang untuk memegangi anak
Ambilah sebuah pisau bedah yang steril dan bukalah bisul dengan segera pada puncaknya saja. Kemudian masukkan penjepit dalam luka dan bukalah penjepitnya. Dengan cara ini, akan membuka jalan keluar untuk nanah, pisau bedah jangan sampai masuk ke dalam karena dapat melukai pembuluh dan syaraf.
Pemberian analgetik, misalnya aspirinatau paracetamol untuk mengurangi rasa nyeri.
Tutuplah luka dengan kasa kering, usahakan agar satu sudut dari kasa dimasukan agar tetap terbuka sehingga nanah dapat keluar
Bersihkan alat- alat
Pesankan agar ganti perban
g.Terapi antibiotika dan antiseptic diberikan tergantung kepada luas dan beratnya penyakit. Misalnya dengan pemberian Achromyem 250 mg, 3 atau 4 kali per hari.
h.Bila furunkel terjadi secara menetap atau berulang atau dalam jumlah yang banyak, maka kenali factor prediposisi adanya diabetes mellitus.
Sumber :
Khoirunnisa, Endang. 2010. Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Anak Balita. Jakarta : Nuha Medika
Endometritis adalah infeksi pada endometrium.Jens infeksi ini biasanya paling sering terjadi.kuman-kuman yang memasuki endometrium,biasanya pada luka bekas implantasi plasenta dan dalam waktu singkat mengikut sertakan seluruh endometrium.pada infeksi dengan kuman yang tidak begitu patogen,infeksi hanya terbatas pada endometrium saja.
b.Tipe endometritis
1)Endometritis post partum (radang dinding rahim sesudah melairkan)
2)Endometritis sinsitial (peradangan dinding rahim akibat tumor jinak disertai sintitial dan trofoblas yang banyak
3)Endometritis tuberkulosa (peradangan pada dinding rahim endometrium dan tuba falopi,biasanya akibat mycobakterium tuberkulosis)
c.Penyebab
1)Campylobacter foetus
2)Brucella sp
3)Vibrio sp
4)Tricomanas foetus
5)Corynebacterium pyogenes
6)Fusobacterium necrophorum
7)Escheria colli
d.Gejala Klinis
1)Lendir vagina yang berwarna keputihan sampai kekuningan yang berlebihan
2)Penderita nampak sehat, walaupun dengan lendir vagina yang kekuningan dan dalam rahimnya tertimbun cairan
3)Uterus membesar dan lembek
4)Nyeri pada saat perabaan uterus
5)Nadi menurun
6)Suhu meningkat
7)Dalam jangka pendek menurunkan kesuburan
8)Dalam jangka panjang gangguan reproduksi
e.Diagnosis
Diagnosis endometritis dapat didasarkan pada riwayat kesehatan, pemeriksaan rektal, pemeriksaan vaginal, dan biopsi. Pemeriksaan vaginal dapat dilakukan dengan menggunakan vaginoskop dengan melihat adanya lendir, lubang leher rahim (serviks) agak terbuka dan kemerahan didaerah vagina dan leher rahim. Pada palpasi perektal akan teraba dinding rahim agak kaku dan didalam rahim ada cairan tetapi tidak dirasakan sebbagai fluktuasi (tergantung derajat).
f.Patofisiologi
Kejadian endometritis kemungkinan besar terjadi pada saat kawin suntik atau penanganan kelahiran yang kurang higienis, sehigga banyak bakteri yang masuk, seperti bakteri non spesifik (E. Coli, Staphylococcus, Streptococcus dan Salmonella), maupun bakteri spesifik (Brucella sp, Vibrio foetus dan Trichomonas foetus).
g.Pengobatan
Memperbaiki vaskularisasi dengan mengirigasi uterus mempergunakan antiseptik ringan seperti lugol dengan konsentrasi yang rendah. Irigasi diulangi beberapa kali dengan interval 2-3 hari. Antibiotik diberikan secara intra uterin dan intra muskular. Leleran dapat dikeluarkan dengan menyuntikan preparat esterogen. Untuk endometritis ringan cukup diberikan antibiotik intra uterin.
SUMBER :
Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Cervicitis (endocervicitis) ialah radang dari selaput lendir canalis cervicalis. Karena epitel selaput lendir canalis cervicalis hanya terdiri dari satu lapisan sel silindris maka lebih mudah terkena infeksi dibandingkan dengan selaput lendir vagina.
Walaupun begitu canalis servicalis terlindung dari infeksi oleh adanya lendir yang kental yang merupakan barrier terhadap kuman-kuman yang ada dalam vagina.
Terjadinya servicitis dipermudah oleh adanya robekan serviks, terutama yang menimbulkan ectropion.
b.Gejala
-Fluor hebat biasanya kenta atau purulent dan kadang-kadang berbau
-Sering menimbulkan erosio (erythroplaki) pada portio, yang nampak sebagai daerah yang merah menyala
-Pada pemeriksaan inspekulo kadang-kadang dapat dilihat fluor yang purulrn keluar dari kanalis servikalis. Jika portio normal, tidak ada ektropion maka kemungkinan gonorhoe.
-Sekunder dapat terjadi kolpitis dan vuvitis.
-Pada servisitis yang kronis kadang-kadang dapat dilihat bintik putih dalam daerah selaput lendir yang merah, karena infeksi. Bintik-bintik ini disebut ovula nabothii dan disebabkan oleh retensi kelenjar-kelenjar serviks karena saluran keluarnya tertutup oleh pengisutan dari luka serviks atau karena radang.
c.Penyebab
-Gonorhoe: sediaan hapus dari fluor serviks terutama yang purulen.
-Sekunder terhadap kolpitis.
-Tindakan intrauterin: dilatasi, dll.
-Alat-alat atau obat kontrasepsi.
-Robekan serviks terutama yang menyebabkan ektropion.
d.Klasifikasi
·Servisitis Akuta
dalam hal ini menyebabkan merah, bengkak, mengeluarkan cairan mukopurulent.
·Servisitis Kronika
dijumpai pada wanita postpartum dan abortus akibat luka pada serviks yang memudahkan kuman-kuman masuk sehingga menyebabkan infeksi menahun
e.Pemeriksaan Khusus
·Spekulum
·Sediaan hapus untuk biakan dan tes kepekaan
·Pap smear
·biopsy
f.Penatalaksanaan
·Antibiotika jika ditemukan gonococcus dalam secret
·AgNO3 10% dan irigasi jika servisitis tidak spesifik
·Tindakan operatif seperti konisasi
·Servisitis kronika melaluinkauterisasi radial atau krioterapi
SUMBER : Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka